PALU’E (NTT), Seputarperistiwanews.com — Suasana pemulihan masih terasa di Desa Tuanggeo, Kecamatan Palue. Setelah gempa, aktivitas warga perlahan kembali berjalan, namun bagi sebagian anak, pengalaman merasakan guncangan masih meninggalkan rasa waspada.
Guncangan kecil sekalipun dapat membuat anak-anak kembali merasa takut. Karena itu, selain kebutuhan bantuan, ruang untuk belajar, bermain, dan berinteraksi menjadi bagian penting dalam mendampingi anak-anak selama masa pemulihan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Palang Merah Indonesia (PMI) yang menghadirkan layanan kemanusiaan secara terpadu melalui Tim Promosi Kesehatan (Promkes), Tim Dukungan Psikososial (PSS), dan Tim Logistik di Desa Tuanggeo.
Sebanyak 65 penerima manfaat mengikuti kegiatan, terdiri dari 26 laki-laki dan 39 perempuan. Anak-anak dan remaja mendapatkan edukasi mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), praktik cuci tangan, pencegahan diare, serta pengenalan risiko rabies.
Edukasi tidak diberikan dengan cara satu arah. Tim PMI menyesuaikan pendekatan dengan usia penerima manfaat sehingga anak-anak dapat lebih mudah memahami pesan yang disampaikan. Mereka diajak mengenali kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan setiap hari untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungan.
Praktik cuci tangan menjadi salah satu bagian kegiatan. Anak-anak tidak hanya mengetahui pentingnya mencuci tangan, tetapi juga diajak memahami kapan kebiasaan tersebut perlu dilakukan, terutama sebelum makan dan setelah melakukan aktivitas yang berpotensi membuat tangan kotor.
Bagi anak-anak, kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk kembali berkumpul bersama teman sebaya. Setelah mengikuti rangkaian kegiatan, mereka terlihat lebih aktif berinteraksi dan mengikuti aktivitas bersama. Pengetahuan yang diperoleh juga dapat mereka bawa pulang untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarga.
Beathris Paku, salah satu orang tua yang dua anaknya mengikuti kegiatan, mengatakan pengalaman pascagempa masih membuat anak-anak mudah merasa khawatir ketika merasakan guncangan.
“Anak saya dua mengikuti kegiatan ini. Kalau biasanya di rumah ada goncangan sedikit saja, mereka sudah merasa takut,” ujar Beathris.
Menurutnya, kegiatan yang mempertemukan anak-anak dalam suasana belajar dan bermain menjadi kesempatan bagi mereka untuk kembali melakukan aktivitas bersama.
Di sisi lain, edukasi kesehatan menjadi semakin penting selama masa pemulihan. Kebiasaan menjaga kebersihan diri dan lingkungan dapat membantu masyarakat, termasuk anak-anak, mengurangi risiko berbagai masalah kesehatan yang dapat muncul dalam situasi pascabencana.
Maulidi dari Tim Promosi Kesehatan PMI mengatakan materi diberikan dengan pendekatan yang disesuaikan dengan usia penerima manfaat agar anak-anak tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mampu menerapkannya.
“Edukasi kami sesuaikan dengan usia penerima manfaat. Anak-anak diajak mengenal PHBS, cara mencuci tangan, pencegahan diare, serta rabies dengan pendekatan yang mudah mereka pahami,” kata Maulidi.
Keterlibatan Tim Promkes bersama PSS dan Logistik membuat layanan di Tuanggeo berjalan secara terpadu. Kebutuhan kesehatan, dukungan psikososial, hingga dukungan logistik diberikan dalam satu rangkaian layanan kemanusiaan.
Dari kegiatan sederhana di Desa Tuanggeo, pemulihan anak-anak dibangun sedikit demi sedikit. Mereka kembali berkumpul, belajar, bermain, dan mendapatkan bekal untuk menjaga kesehatan diri serta keluarga di tengah proses pemulihan pascagempa.
Bagi PMI, mendampingi masyarakat bukan hanya tentang menghadirkan bantuan, tetapi juga memastikan anak-anak tetap memiliki ruang untuk tumbuh, belajar, dan kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih percaya diri. (Hafiidh)


