SIKKA (NTT), Seputarperistiwanews.com — Pengalaman menghadapi gempa menjadi pembelajaran tersendiri bagi siswa dan pendidik di SLB Bimbingan Kasih Paga, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka. Berada di wilayah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Ende, sekolah ini menjadi tempat belajar bagi anak-anak dengan beragam kebutuhan khusus.
SLB Bimbingan Kasih Paga melayani pendidikan jenjang SD, SMP hingga SMA. Terdapat 43 siswa dan 15 tenaga pendidik dengan beragam kebutuhan khusus, di antaranya tunagrahita, tunadaksa, tunarungu, autisme, tunaganda, Down syndrome hingga tunawicara.
Ketika gempa terjadi, sebagian siswa mendapatkan informasi dari pihak sekolah dan kemudian berlari keluar untuk menyelamatkan diri. Bagi para pendidik, situasi tersebut menunjukkan bahwa pemahaman mengenai kesiapsiagaan bencana perlu diberikan dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kemampuan setiap anak.
Jovan dan Steven, dua siswa tunagrahita sedang, turut mengalami situasi tersebut. Pengalaman menghadapi gempa menjadi bagian dari cerita mereka dalam menghadapi kondisi darurat.
Sekitar dua minggu setelah gempa, PMI Kabupaten Sikka memberikan edukasi mengenai gempa bumi dan cara menyelamatkan diri kepada para siswa. Relawan PMI Sikka bersama para guru menyampaikan materi dengan cara yang sederhana dan interaktif agar lebih mudah dipahami oleh anak-anak berkebutuhan khusus.
Tidak hanya mengenai kebencanaan, edukasi juga dikaitkan dengan kebiasaan hidup bersih dan sehat. Anak-anak diajak mempraktikkan enam langkah mencuci tangan, mengenal pentingnya menjaga kebersihan diri serta lingkungan sekolah.
Suasana belajar dibuat lebih menyenangkan melalui nyanyian. Relawan PMI bersama guru mengajak anak-anak menyanyikan lagu bertema gempa sebagai cara sederhana untuk membantu mereka mengingat langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika terjadi gempa.
Kepala Sekolah SLB Bimbingan Kasih Paga, Asensius Athanasius, mengatakan edukasi dengan metode yang sederhana dan praktik langsung membantu guru dalam menyampaikan pesan kepada siswa.
“Anak-anak berkebutuhan khusus memiliki cara memahami sesuatu yang berbeda-beda. Dengan adanya edukasi dari PMI, terutama melalui praktik dan lagu, kami lebih mudah mengajak anak-anak memahami apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempa maupun bagaimana menjaga kebersihan diri dan lingkungan,” ujarnya.
Menurutnya, edukasi kesiapsiagaan perlu dilakukan secara berkelanjutan dan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing siswa.
Hal senada disampaikan Ketua Yayasan Bimbingan Kasih, Yunista Evangelista Lesu. Pihak sekolah berharap edukasi kebencanaan dapat terus diberikan kepada anak-anak berkebutuhan khusus dengan pendekatan yang sesuai dengan masing-masing ketunaan.
Penguatan kesiapsiagaan tersebut kemudian berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan selama masa pemulihan. Hari ini, Kamis (24/9/2026), PMI Kabupaten Sikka kembali hadir di SLB Bimbingan Kasih Paga melalui pendistribusian bantuan logistik, mewakili dukungan dari PMI Sumatera Utara dan PT Musim Mas.
Bantuan yang disalurkan terdiri dari beras, telur, minyak goreng, mi instan, sarden, gula pasir, Energen, sabun mandi, sabun cuci, serta susu UHT kemasan 1 liter.
Staf PMI Kabupaten Sikka, Arnollado, mengatakan dukungan kepada SLB Bimbingan Kasih tidak hanya diarahkan pada pemenuhan kebutuhan selama masa pemulihan, tetapi juga pada penguatan pengetahuan dan keterampilan yang dapat membantu anak-anak menghadapi situasi darurat.
“Edukasi tentang gempa dan cara menyelamatkan diri penting diberikan kepada anak-anak berkebutuhan khusus dengan cara yang sesuai dengan kemampuan mereka. Karena itu, kami bersama guru menggunakan metode yang sederhana, seperti praktik, gerakan dan lagu, agar pesan yang diberikan lebih mudah diterima,” ujar Arnollado.
Bagi SLB Bimbingan Kasih Paga, rangkaian pendampingan tersebut menjadi bagian dari proses pemulihan sekaligus pembelajaran. Dari mengenali cara menyelamatkan diri saat gempa, mencuci tangan dengan benar, hingga menjaga kebersihan lingkungan, anak-anak diajak membangun kebiasaan yang dapat mendukung keselamatan dan kesehatan mereka sehari-hari. (Hafiidh)


