Saat Lagu dan Gerakan Mengajarkan Anak-anak Ndona 2 Menjaga Kesehatan

Ende (NTT), Seputarperistiwanews.com – Suasana berbeda terlihat di SDK Ndona 2. Di tengah proses pemulihan setelah gempa, puluhan anak kembali berkumpul dan mengikuti kegiatan promosi kesehatan yang diberikan Palang Merah Indonesia (PMI).

Dalam pelaksanaan nya, Anak-anak tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi anak-anak diajak belajar dengan cara yang lebih menyenangkan yaitu mereka diajak bernyanyi, bergerak, sekaligus mempraktikkan cara mencuci tangan yang benar.

Sebanyak 70 siswa dan 11 guru SDK Ndona 2 mengikuti kegiatan Promosi Kesehatan dengan metode belajar yang diselingi permainan dan praktik membuat materi kesehatan terasa lebih mudah diterima.

Febrionia Nona Laka, siswa kelas 6, menyampaikan sebelumnya sudah terbiasa mencuci tangan. Namun, kebiasaan tersebut ternyata belum dilakukan dengan cara yang benar.

“Biasanya saya cuci tangan, tapi hanya membasuh telapak tangan saja. Setelah diajari tadi, saya jadi tahu ternyata ada langkah-langkahnya, bukan hanya telapak tangan,” ujar Febrionia.

Ia pun terlihat antusias mengikuti praktik yang diberikan. Menurutnya, belajar dengan bernyanyi membuat materi lebih mudah diingat dan tidak terasa membosankan.

"Awalnya sih susah yang menghafalkan 6 langkah cuci tangan, setelah kakak PMI mengajak bernyanyi akhir nya saya hafal dan bisa mempraktikkan 6 langkah cuci tangan " Imbuhnya. 

Sementara itu, Arnoldus Wora, siswa kelas 5, merasakan pengalaman berbeda dari kegiatan tersebut. Baginya, belajar kesehatan dengan langsung mempraktikkannya membuat materi lebih mudah dipahami.

“Senang karena tadi bukan hanya mendengarkan, tapi langsung ikut bergerak dan praktik. Saya jadi tahu bagaimana cara mencuci tangan yang benar,” kata Arnoldus.

Tim Promosi Kesehatan PMI, Choir Rasyid, mengatakan pendekatan yang digunakan memang dirancang agar anak-anak tidak hanya menerima informasi, tetapi ikut terlibat langsung dalam proses belajar.

“Penekanannya bagaimana anak-anak bisa memahami perilaku hidup bersih dan sehat dengan cara yang sederhana, menyenangkan, dan mudah mereka ingat. Jadi bukan hanya tahu teorinya, tetapi mereka juga langsung mempraktikkan,” ujar Rasyid.

Menurutnya, metode bernyanyi dan praktik dipilih karena lebih dekat dengan karakter anak-anak. Dengan cara tersebut, pesan mengenai kebersihan tangan, pencegahan diare, serta kebiasaan hidup bersih diharapkan dapat terbawa dalam keseharian mereka.

“Harapannya, setelah kegiatan ini anak-anak tidak hanya mengingat lagunya, tetapi juga mengingat pesan kesehatannya dan bisa menerapkannya di rumah maupun di sekolah,” katanya.

Kegiatan ini menjadi semakin berarti karena proses belajar di SDK Ndona 2 sempat mengalami perubahan setelah gempa. Kepala SDK Ndona 2, Theodosia Ndole, mengatakan pada minggu pertama setelah gempa sekolah meliburkan kegiatan belajar. Memasuki minggu kedua, pembelajaran dilakukan dari jarak jauh.

Namun, kondisi tersebut belum berjalan optimal. Anak-anak masih mengalami trauma sehingga sekolah kemudian lebih banyak memberikan rangkuman materi untuk dipelajari.

“Menarik yang dibagikan PMI melalui promosi kesehatan ini. Tadi saya juga sempat meminta guru-guru untuk merekam videonya agar bisa dijadikan bahan pembelajaran setelah kegiatan ini,” ujar Theodosia.

Menurutnya, materi seperti cara mencuci tangan dan pencegahan diare menjadi pengetahuan baru bagi anak-anak. Terlebih, penyampaiannya menggunakan metode bernyanyi dan praktik langsung sehingga anak-anak lebih mudah mengikuti.

“Di sini anak-anak sangat antusias. Semoga kegiatan ini bisa membuat anak-anak tidak kembali merasa trauma. Apalagi selain promosi kesehatan, PMI juga memberikan dukungan psikososial,” katanya.

Bagi PMI, promosi kesehatan tidak hanya menjadi sarana menyampaikan informasi tentang perilaku hidup bersih dan sehat. Di tengah situasi pascagempa, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk kembali berinteraksi, bermain, dan belajar dalam suasana yang aman.

Dari gerakan mencuci tangan hingga nyanyian yang dilakukan bersama, pembelajaran hari itu perlahan menghadirkan kembali suasana sekolah yang sempat hilang setelah gempa. (Hafiidh)

Lebih baru Lebih lama