Lebih dari Dua Dekade Mendampingi Penyintas, Pak Dhe Kris Menemukan Senyum di NTT

NTT, Seputarperistiwanews.com — Bagi Drs. Kris Saptana, M.Pd., mendampingi masyarakat terdampak bencana bukan sekadar tentang hadir di lokasi, tetapi tentang bagaimana membantu seseorang kembali menemukan rasa aman, semangat, dan bahkan senyum setelah melalui situasi yang tidak mudah.

Di lingkungan rekan-rekan kemanusiaan, ia akrab disapa Pak Dhe Kris. Pria kelahiran Klaten, 3 Maret 1962, itu telah aktif bersama Palang Merah Indonesia (PMI) sejak 1991 dan menjadi bagian dari PMI Kabupaten Lampung Selatan.

Lebih dari dua dekade berada dalam kerja kemanusiaan membawanya bertemu dengan masyarakat di berbagai wilayah terdampak bencana. Setiap tempat memiliki cerita dan kebutuhan yang berbeda. Namun, satu hal yang terus ia temukan adalah semangat manusia untuk bangkit.

Kini, Pak Dhe Kris kembali menjalankan tugas kemanusiaan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Selama sekitar dua pekan, ia ditugaskan sebagai pendamping Psychosocial Support Service (PSS) untuk membantu masyarakat menghadapi dampak psikososial setelah gempa.

Di NTT, salah satu hal yang paling membekas baginya justru bukan tentang besarnya kerusakan, melainkan semangat dan kemandirian masyarakat dalam memulihkan kehidupan mereka.

“Masyarakat di sini semangat dan mandiri. Mereka bersama-sama berusaha untuk bangkit dan memulihkan keadaan,” tuturnya.

Namun, di balik semangat tersebut, Pak Dhe Kris juga menemukan berbagai kekhawatiran yang perlu didengarkan. Anak-anak, misalnya, masih memiliki rasa takut untuk kembali belajar, termasuk ketika proses pembelajaran harus dilakukan di tenda darurat. Para guru pun menghadapi tantangan tersendiri dalam mendampingi anak-anak di tengah situasi pascabencana.

Bagi Pak Dhe Kris, kondisi seperti itu menjadi pengingat bahwa setiap kelompok membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Anak-anak tidak selalu membutuhkan penjelasan panjang. Mereka dapat diajak bermain, bergerak, bernyanyi, dan melakukan aktivitas yang membuat mereka kembali merasa nyaman.

Sementara bagi remaja, kegiatan dapat diarahkan untuk mengembangkan kreativitas melalui hobi, olahraga, maupun seni. Untuk orang tua, aktivitas sehari-hari seperti memasak atau keterampilan sederhana, termasuk memanfaatkan bahan bekas untuk membuat sesuatu, dapat menjadi ruang untuk beraktivitas sekaligus berinteraksi.

Kelompok lanjut usia juga memiliki pendekatan tersendiri, salah satunya melalui kegiatan keagamaan yang dekat dengan keseharian mereka.

“Setiap kelompok itu berbeda. Anak-anak dengan bermain, remaja bisa melalui kreativitas dan hobi, orang tua dengan aktivitas sehari-hari. Lansia juga bisa melalui kegiatan keagamaan,” jelasnya.

Bukan hanya masyarakat terdampak yang membutuhkan pendampingan. Bagi Pak Dhe Kris, relawan juga merupakan bagian penting yang tidak boleh dilupakan.

“Relawan juga manusia,” katanya.

Mereka yang setiap hari berada di lapangan dapat mengalami kelelahan, tekanan, bahkan pengalaman yang tidak diinginkan selama menjalankan tugas. Karena itu, dukungan antarsesama relawan, termasuk melalui kegiatan kelompok dan debriefing, menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi psikososial mereka.

Pendekatan yang sama juga diberikan kepada penyandang disabilitas, dengan menyesuaikan kegiatan berdasarkan kebutuhan dan kondisi masing-masing.

Pengalaman panjang Pak Dhe Kris membuatnya memahami bahwa PSS bukan tentang menghapus begitu saja rasa takut atau kesedihan yang dialami seseorang. Lebih dari itu, pendampingan menjadi ruang bagi penyintas untuk didengar, berinteraksi, kembali melakukan aktivitas, dan perlahan membangun kepercayaan dirinya.

Pengalaman itu pula yang ia bawa dari berbagai penugasan sebelumnya, termasuk di Aceh, Sumatera Barat, Mentawai, Lampung, Lombok hingga Sulawesi Tengah. Setiap penugasan menghadirkan situasi yang berbeda dan memberikan pelajaran tersendiri.

Di Aceh, misalnya, ia bertemu dengan masyarakat yang mengalami tekanan pascabencana, termasuk relawan yang juga membutuhkan ruang untuk mendapatkan dukungan. Sementara dalam pengalaman penugasannya di Mentawai, ia menemukan kebutuhan psikologis masyarakat yang memerlukan proses pendampingan secara khusus.

Berbagai pengalaman tersebut berjalan beriringan dengan perjalanan Pak Dhe Kris dalam mengembangkan kapasitas di bidang psikososial. Ia mengikuti dan terlibat dalam berbagai pelatihan, mulai dari Psychosocial Support Program (PSP), Training of Trainer PSP, debriefing, hingga pelatihan berbasis seni dan kegiatan psikososial lainnya.

Kini, setelah lebih dari tiga dekade bergelut dalam kerja kemanusiaan, ia masih menemukan dirinya sebagai seorang pembelajar.

Di NTT, pelajaran itu datang dari masyarakat yang tetap berusaha bangkit, dari anak-anak yang perlahan kembali bermain dan belajar, dari guru yang terus mendampingi muridnya, hingga dari relawan yang tetap bertahan menjalankan tugas.

Dan di tengah proses pemulihan itu, Pak Dhe Kris kembali menemukan sesuatu yang sederhana tetapi berarti: senyum.

Senyum yang mungkin terlihat kecil, tetapi bagi seorang pendamping psikososial, dapat menjadi tanda bahwa seseorang mulai menemukan kembali semangatnya setelah melewati masa yang sulit.

“Setiap lokasi bencana itu berbeda. Kita belajar dari masyarakat yang kita dampingi,” ujarnya.

Bagi Pak Dhe Kris, perjalanan panjang dalam kemanusiaan akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak tempat yang pernah didatangi atau berapa banyak penyintas yang pernah didampingi. Tetapi tentang bagaimana setiap pertemuan meninggalkan pelajaran dan bagaimana dari setiap proses pemulihan, selalu ada alasan untuk kembali tersenyum. (Hafiidh)

Lebih baru Lebih lama