PMI Kembali Salurkan Bantuan ke Pulau Palue, Jangkau Warga Terdampak dan Kelompok Rentan

SIKKA (NTT), Seputarperistiwanews.com — Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sikka kembali menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat terdampak bencana di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Distribusi bantuan ini merupakan bagian dari tahap kedua operasi layanan PMI di Pulau Palue yang berlangsung pada 22–26 September 2026.

Sebelumnya, PMI Kabupaten Sikka telah melaksanakan tahap pertama layanan pada 31 Agustus–4 September 2026. Respons kemanusiaan tersebut dilakukan untuk menjangkau masyarakat di wilayah kepulauan yang menghadapi tantangan akses akibat kondisi geografis.

Pulau Palue berada sekitar 65 kilometer dari Maumere melalui jalur laut. Kondisi tersebut membuat pemenuhan kebutuhan masyarakat dari wilayah daratan harus ditempuh melalui perjalanan laut.

Leader Layanan PMI di Pulau Palue, Gabriel Ricardus Moatsetu, mengatakan layanan pada tahap kedua kembali diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sekaligus memberikan perhatian kepada kelompok rentan.

“Pada tahap kedua ini kami kembali mendistribusikan bantuan untuk masyarakat di beberapa desa dan juga memberikan dukungan kepada Puskesmas Tuanggeo, khususnya untuk kelompok rentan. Ini merupakan bagian dari upaya PMI memastikan kebutuhan masyarakat tetap terlayani selama masa respons,” ujar Gabriel.

Distribusi bantuan pada tahap kedua dilakukan di Desa Maluriwu, Desa Reruwairere, Desa Tuanggeo, serta Puskesmas Tuanggeo.

Bantuan yang disalurkan meliputi berbagai kebutuhan dasar, antara lain air mineral, tikar, terpal, baby kit, hygiene kit, dignity kit, radio dan baterai, mi instan, selimut, sarung, senter, ember, vitamin, biskuit, serta perlengkapan kebersihan dan kebutuhan kelompok rentan.

Di Desa Maluriwu, bantuan yang disalurkan antara lain 20 dos air mineral, 21 lembar tikar, 24 lembar terpal, satu karton sabun, tiga pasang radio dan baterai, empat karung mi instan, 23 lembar selimut, 20 lembar sarung, empat unit perlengkapan kebersihan, dua pasang perlengkapan tambahan, satu buah senter, satu karung ember berisi 24 buah, empat dos vitamin, satu dos Tanggo, dan satu dos biskuit.

Sementara di Desa Reruwairere, PMI menyalurkan 20 dos air mineral, 21 lembar tikar, 24 lembar terpal, satu karton sabun, tiga pasang radio dan baterai, empat karung mi instan, 23 lembar selimut, 20 lembar sarung, empat unit perlengkapan, dua pasang perlengkapan tambahan, satu buah senter, serta satu karung ember berisi 24 buah.

Untuk Desa Tuanggeo, bantuan yang diberikan antara lain 73 kotak hygiene kit, 18 kotak baby kit, dan 15 tas dignity kit, disertai sejumlah kebutuhan dasar lainnya.

Dukungan juga diberikan kepada Puskesmas Tuanggeo untuk kelompok rentan yang terdiri dari 35 bayi, 39 penyandang disabilitas, 19 ibu hamil, dan 15 ibu nifas.

Sekretaris Desa Reruwairere, Maria Florida Punga, mengatakan wilayahnya memiliki 358 kepala keluarga, dengan 326 KK atau sekitar 941 jiwa terdampak.

“Apalagi bantuan radio, ini sangat senang anak-anak mendengarkan. Ini radio yang kita gunakan waktu gempa tahun 1992. Sekarang mendapatkan dari PMI, ini bisa kami putar di rumah,” ujar Maria.

Menurutnya, radio memiliki manfaat tersendiri bagi masyarakat karena dapat digunakan di rumah, termasuk sebagai sarana informasi dan hiburan bagi keluarga.

Hal senada disampaikan Bona Toji (76). Ia mengatakan bantuan yang diberikan sangat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari.

“Sudah diperhatikan di sini, luar biasa. Ini bisa untuk kebutuhan kita sehari-hari karena untuk beli harus ke Maumere,” katanya.

Melalui dua tahap layanan tersebut, PMI Kabupaten Sikka berupaya menjaga kesinambungan respons kemanusiaan di Pulau Palue. Tahap pertama berlangsung pada 31 Agustus–4 September 2026, sementara tahap kedua berlangsung pada 22–26 September 2026, dengan dukungan layanan dan distribusi bantuan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.

Bagi masyarakat Pulau Palue, dukungan tersebut menjadi penting mengingat akses dari dan menuju Maumere harus ditempuh melalui jalur laut. Kehadiran PMI di wilayah kepulauan diharapkan dapat membantu memastikan kebutuhan dasar masyarakat, termasuk kelompok rentan, tetap mendapatkan perhatian selama masa respons. (Hafiidh)

Lebih baru Lebih lama