Langkah Kecil Jordan Menghadapi Gempa Flores

SIKKA (NTT), Seputarperistiwanews.com — Dua buah kruk menopang langkah Jordan yang perlahan. Bocah berusia tujuh tahun itu berjalan menuju sekolah dengan keterbatasan fisik yang dialaminya sejak kecil. Sekitar satu kilometer ia tempuh setiap hari untuk sampai ke SDK Bei, Desa Blatatatin, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, tempatnya duduk di bangku kelas II. Namun, di balik langkah yang harus ditopang kruk itu, Jordan menyimpan keberanian yang tak kalah besar. Ketika gempa mengguncang rumahnya, ia justru lebih dulu keluar dan berteriak meminta Bapa dan Mamanya menyelamatkan diri.

Jordan, begitu ia akrab disapa, merupakan anak dengan disabilitas fisik atau tuna daksa sejak kecil. Keterbatasan itu tidak membuatnya berhenti bersekolah. Dengan kruk di kedua tangannya, ia tetap menjalani rutinitas sebagai seorang pelajar, menempuh jarak sekitar satu kilometer dari rumah menuju sekolah.

Langkahnya mungkin tidak secepat teman-temannya. Tetapi Jordan tetap berangkat.

Ada hari-hari ketika perjalanan itu harus dilalui perlahan. Kruk menjadi tumpuan untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Namun, bagi Jordan, sekolah tetap menjadi tujuan yang harus dicapai.

Semangat itu pula yang terlihat ketika gempa terjadi.

Saat guncangan dirasakan di rumah, Jordan segera keluar dan berdiri di halaman. Di tengah situasi yang membuat takut, ia justru mengingat orang tuanya. Dari halaman rumah, ia berteriak meminta Bapa dan Mamanya segera keluar dan menyelamatkan diri.

Cerita tersebut disampaikan Jordan ketika berbincang dengan relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sikka.

“Jordan takut tidak kalau ada gempa?” tanya relawan PMI.

“Takut, Om,” jawabnya.

Jawaban itu sederhana. Jordan tidak menutupi rasa takutnya.

Namun, ia memiliki pengalaman yang membuatnya lebih siap menghadapi guncangan.

“Saya sudah pernah merasakan gempa kecil sehingga saya bisa mengatasi, walaupun saya punya keterbatasan,” katanya.

Bagi Jordan, pengalaman merasakan gempa sebelumnya menjadi pelajaran. Ia mengetahui bahwa ketika guncangan terjadi, dirinya perlu segera mencari tempat yang lebih aman dan menyelamatkan diri.

Gempa memang telah berlalu. Namun, bagi Jordan, ingatan tentang guncangan itu masih ada.

Ketika relawan PMI kembali bertanya apakah dirinya masih takut jika gempa terjadi lagi, Jordan mengaku rasa takut itu belum hilang.

“Rasa takut tentu ada,” ujarnya.

Tetapi kali ini, ada hal yang membuatnya merasa lebih tenang.

“Saya bersyukur masih ada Bapa dan Mama yang mendampingi.”

Bagi seorang anak, kehadiran orang tua menjadi sumber rasa aman ketika keadaan berubah menjadi tidak pasti. Sementara edukasi kebencanaan yang diterimanya dari PMI menjadi bekal tambahan agar Jordan lebih siap menghadapi kemungkinan gempa berikutnya.

Kini, ia memahami bahwa ketika gempa terjadi, rasa takut tidak boleh membuatnya kehilangan arah.

“Kalau ada gempa lagi, saya tidak boleh panik. Saya harus menyelamatkan diri dan Bapa Mama,” kata Jordan.

Kalimat sederhana itu menunjukkan bagaimana sebuah edukasi dapat menjadi bekal bagi seorang anak untuk menghadapi situasi darurat. Pengetahuan yang diberikan tidak berhenti sebagai materi, tetapi mulai dipahami Jordan sebagai sesuatu yang bisa diterapkan ketika keadaan benar-benar terjadi.

Usia Jordan baru tujuh tahun. Perjalanannya masih panjang.

Ia masih akan bertemu banyak pelajaran di sekolah, bermain bersama teman-temannya, dan menempuh jalan yang sama dari rumah menuju SDK Bei.

Sekitar satu kilometer.

Dengan dua kruk yang menopang setiap langkahnya.

Namun, kisah Jordan menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak serta-merta membatasi keberaniannya. Ketika gempa datang, ia tidak hanya memikirkan keselamatan dirinya, tetapi juga mengingatkan orang tuanya untuk menyelamatkan diri.

Jordan tidak mengatakan dirinya tidak takut.

Ia justru mengakui rasa takut itu.

Tetapi ia belajar bahwa rasa takut tidak harus membuat seseorang berhenti.

Seperti setiap pagi ketika menuju sekolah, Jordan kembali melangkah. Perlahan, dengan kedua kruk di tangannya, ia menempuh jalan yang sama.

Satu langkah, lalu satu langkah berikutnya.

Begitulah Jordan menghadapi hari-harinya: dengan keterbatasan yang ada, dengan dukungan Bapa dan Mama, serta dengan pengetahuan baru untuk menghadapi gempa.

Sebab bagi Jordan, keberanian bukan tentang berjalan paling cepat atau tidak merasa takut. Keberanian adalah tetap melangkah, meski harus perlahan. (Hafiidh)

Lebih baru Lebih lama