Ende (NTT), Seputarperistiwanews.com — Suasana belajar di SMPN Satap Nggemo berlangsung berbeda. Di tengah kondisi sebagian siswa yang masih menghadapi dampak gempa, Palang Merah Indonesia (PMI) hadir melalui kegiatan promosi kesehatan yang dikemas dengan praktik dan permainan edukatif. (Sabtu, 19/9/2026).
Sebanyak 97 siswa mengikuti kegiatan tersebut, terdiri dari 50 laki-laki dan 47 perempuan, bersama 15 guru. Beragam materi kesehatan diberikan, mulai dari enam langkah mencuci tangan yang benar, mengenali air yang aman untuk diminum, hingga memahami vektor pembawa penyakit.
Edukasi juga mencakup pencegahan rabies dan demam berdarah. Materi disampaikan dengan pendekatan yang mudah dipahami dan melibatkan siswa secara langsung. Kegiatan kemudian ditutup dengan permainan ular tangga bertema kebersihan, yang membuat suasana belajar menjadi lebih interaktif.
Bagi siswa, metode tersebut memberikan pengalaman berbeda karena mereka tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga dapat mempraktikkannya secara langsung.
“Saya senang karena bisa praktik langsung, jadi lebih mudah memahami materi yang diberikan. Apalagi ada permainan ular tangga tentang kebersihan. Di setiap nomor ada keterangannya dan kami juga diminta menebak, jadi sambil bermain kami bisa belajar bagaimana cara menjaga kebersihan,” ujar Maria Mikania Gambe, siswi kelas 7 SMPN Satap Nggemo.
Tim Promosi Kesehatan PMI, Maulidi, mengatakan edukasi kesehatan kepada anak-anak penting diberikan dengan metode yang sesuai dengan usia mereka. Praktik dan permainan menjadi salah satu cara agar pesan kesehatan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Anak-anak kita ajak untuk tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga mempraktikkan langsung. Dengan cara seperti ini, mereka lebih mudah memahami dan mengingat pesan-pesan kesehatan yang kami sampaikan, terutama kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan dan menjaga kebersihan lingkungan,” ujar Maulidi.
Di balik kegiatan tersebut, kondisi pascagempa masih menjadi bagian dari keseharian para siswa. Wali Kelas 9 SMPN Satap Nggemo, Maria Regina Weni, mengatakan sejumlah siswa masih mengalami trauma setelah gempa. Keretakan pada rumah membuat sebagian dari mereka memilih tidur di tempat yang dianggap lebih aman.
“Ada beberapa yang masih trauma. Mereka ada yang tidur di dapur atau di depan rumah karena rumahnya banyak yang retak,” ujar Maria Regina.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dukungan bagi anak-anak pascabencana tidak hanya berkaitan dengan proses belajar, tetapi juga bagaimana mereka tetap mendapatkan pengetahuan untuk menjaga kesehatan dan beraktivitas dengan aman di lingkungan sekitar.
Melalui promosi kesehatan yang dikemas dengan praktik dan permainan, PMI berupaya menghadirkan suasana belajar yang edukatif sekaligus menyenangkan bagi siswa. Pesan tentang kebersihan dan pencegahan penyakit diharapkan dapat menjadi kebiasaan yang terus mereka terapkan, baik di sekolah maupun di rumah.
Kegiatan di SMPN Satap Nggemo menjadi bagian dari dukungan PMI bagi warga sekolah dalam menjaga kesehatan dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai risiko penyakit di tengah situasi pascagempa. (Hafiidh)


