MANGGARAI (NTT), Seputarperistiwanews.com – Pascagempa susulan yang mengguncang Pulau Flores, layanan psikososial bagi anak-anak terdampak terus dilakukan di sejumlah lokasi pengungsian. Mahasiswa perwakilan Universitas Indonesia (UI) bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kabupaten Manggarai mengajak Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Manggarai berkolaborasi dalam memberikan pendampingan kepada anak-anak terdampak bencana.
Kegiatan psikososial dilakukan melalui pendekatan belajar sambil bermain, bernyanyi, edukasi, serta permainan kelompok. Suasana ceria tampak ketika anak-anak mengikuti berbagai aktivitas yang dirancang untuk membantu mereka mengurangi kejenuhan dan membangun kembali rasa aman setelah mengalami situasi bencana.
Ajakan kolaborasi tersebut berawal ketika tim psikososial UI dan DPPPA melihat banner bertuliskan “Tolak Eksploitasi, Penyalahgunaan dan Pelecehan terhadap Perempuan dan Anak” yang terpasang di tenda posko layanan PMI Kabupaten Manggarai.
Dari diskusi yang berlangsung di tenda layanan PMI, diketahui bahwa PMI selama ini juga aktif melakukan kampanye perubahan perilaku serta edukasi pengurangan risiko bencana kepada anak-anak, termasuk anggota Palang Merah Remaja (PMR) di sejumlah sekolah di Kecamatan Reok dan Reok Barat.
Perwakilan Fakultas Psikologi UI, Alia dan Hanni, kemudian mengajak PMI untuk berkolaborasi dalam memberikan layanan psikososial kepada anak-anak terdampak. Rencananya, kegiatan tersebut dilaksanakan setiap pagi dan sore selama lima hari masa tugas tim di wilayah terdampak.
“Kami juga sering melakukan kampanye perubahan perilaku dalam upaya pengurangan risiko bencana kepada anak-anak dan masyarakat,” jelas Elson Osko, koordinator posko layanan PMI yang mewakili tim PMI.
Menurut Elson, PMI menyambut baik rencana kolaborasi tersebut. Kegiatan psikososial akan dipadukan dengan aktivitas yang menyenangkan agar anak-anak tetap antusias mengikuti kegiatan.
“Kita juga bersedia kalau dibutuhkan nanti. Kita juga perlu melakukan ice breaking supaya anak-anak tidak jenuh selama berkegiatan,” lanjutnya.
Sementara itu, Yuliana Rosna, S.Psi., dari DPPPA Kabupaten Manggarai, mengatakan kolaborasi lintas sektor dalam situasi bencana sangat penting, khususnya untuk memastikan kebutuhan perempuan dan anak sebagai kelompok rentan tetap terpenuhi.
“Kolaborasinya yaitu pendataan, perlindungan, kesehatan, layanan psikososial, pemulihan, posko yang ramah perempuan dan anak, serta layanan healing trauma bagi korban bencana,” jelas Yuliana.
Ia menambahkan, kolaborasi tersebut bertujuan mewujudkan pelayanan kemanusiaan yang aman, cepat, dan terpadu dengan mengedepankan kepentingan terbaik bagi perempuan, anak, serta kelompok rentan lainnya.
“Dengan kolaborasi ini, kita membantu pemulihan bagi korban agar tetap mampu bertahan dan menghadapi hari-hari pascabencana,” pungkas Yuliana.
Rencananya, layanan psikososial kolaboratif tersebut mulai dilaksanakan pada 21 Agustus 2026 dengan kegiatan pagi dan sore bagi anak-anak di lokasi terdampak. Pendekatan belajar dan bermain diharapkan dapat menjadi ruang bagi anak untuk berekspresi, berinteraksi, sekaligus memperoleh dukungan psikososial selama masa tanggap bencana. (Hafiidh)

