Pelatihan berlangsung di Ruang Rapat Lantai 3 Gedung Kapiten, Dinas Kesehatan Daerah, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Pasuruan, Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Pasuruan, Jalan Raya Raci Km 9, Bangil.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan unsur kebencanaan di Kabupaten Pasuruan. FPRB Kabupaten Pasuruan menjadi salah satu peserta yang mengikuti pembekalan, bersama unsur kebencanaan dan kemanusiaan lainnya, yakni BPBD Kabupaten Pasuruan, PMI Kabupaten Pasuruan, TAGANA Kabupaten Pasuruan, BAGANA Kabupaten Pasuruan, serta REDKAR Kabupaten Pasuruan.
Bagi FPRB Kabupaten Pasuruan, kemampuan menghadapi kegawatdaruratan merupakan bagian penting dari kesiapsiagaan bencana. Anggota yang berada di lapangan dituntut mampu mengenali kondisi darurat, menjaga keselamatan, memberikan pertolongan awal sesuai kapasitas, serta segera mengaktifkan bantuan lanjutan.
Materi BHD diberikan sebagai pembekalan bagi masyarakat awam terlatih. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai prinsip keselamatan melalui 3A, yakni Aman Diri, Aman Lingkungan, dan Aman Korban.
Peserta juga dibekali kemampuan melakukan penilaian awal terhadap korban, mulai dari memeriksa kesadaran hingga mengevaluasi pernapasan.
Jika korban tidak bernapas normal, tindakan pertolongan harus segera dilakukan melalui Resusitasi Jantung Paru (RJP). Peserta juga diperkenalkan dengan penggunaan Automated External Defibrillator (AED) apabila perangkat tersedia dan sesuai dengan kondisi serta kemampuan penolong.
Pelatihan turut menekankan prinsip RJP berkualitas pada korban dewasa.
Kompresi dada dilakukan pada bagian tengah tulang dada dengan kedalaman sekitar 5–6 sentimeter dan kecepatan 100–120 kali per menit. Penolong harus memastikan dada kembali mengembang sempurna setelah setiap kompresi dan meminimalkan jeda yang tidak diperlukan.
Artinya, keberhasilan RJP bukan sekedar persoalan menghitung jumlah pijatan. Ketepatan titik kompresi, kedalaman, kecepatan, recoil dada, dan kesinambungan kompresi menjadi bagian penting dari kualitas pertolongan.
Pada korban tidak sadar yang masih bernapas, peserta juga diingatkan untuk tidak memberikan makanan maupun minuman. Kondisi korban harus terus dipantau sambil mengaktifkan bantuan kegawatdaruratan sesuai kebutuhan.
Pembekalan diberikan oleh Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI) sebagai bagian dari penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi krisis kesehatan dan pascakrisis kesehatan.
Aris Felani, S.Sos, Ketua FPRB Kabupaten Pasuruan menyampaikan apresiasi kepada jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan dan HIPGABI yang telah memberikan kesempatan kepada anggota FPRB untuk meningkatkan kompetensi.
“Kami mengapresiasi dan berterima kasih kepada dr. Arma Rosalina, M.Kes., selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan, serta drg. Boy Zulvikhar Vaus, Ida Zuhroidah, S.Kep., Ns., M.Kes., dan Dian Rahmadin Akbar, S.Kep., Ns., M.Kep., dari HIPGABI selaku narasumber yang telah memberikan kesempatan bagi anggota kami untuk belajar dan terus belajar.”
Menurutnya, kemampuan dasar kegawatdaruratan menjadi bekal penting bagi anggota FPRB karena dalam menjalankan fungsi pengurangan risiko bencana, anggota dapat berhadapan langsung dengan masyarakat yang membutuhkan pertolongan awal.
“Semoga ilmu yang kami peroleh tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) ini akan sangat bermanfaat bagi kami dalam menjalankan tugas-tugas kemanusiaan.”
FPRB berharap pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi dapat diterapkan secara tepat sesuai kapasitas, kewenangan, prosedur keselamatan, serta tetap mengedepankan koordinasi dengan tenaga kesehatan dan sistem pelayanan kegawatdaruratan.
Namun bagi FPRB Kabupaten Pasuruan, keterlibatan dalam pelatihan tersebut bukan sekedar kehadiran. Peningkatan kapasitas anggota menjadi bagian dari upaya membangun FPRB yang semakin siap, terampil, dan mampu berkontribusi dalam pengurangan risiko bencana di tengah masyarakat.
Pelatihan BHD menjadi investasi pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi situasi ketika pertolongan awal dibutuhkan.
Sebab dalam kegawatdaruratan, kecepatan harus berjalan bersama ketepatan, keberanian harus dibarengi pengetahuan, dan pertolongan harus dimulai dari keselamatan.
FPRB Kabupaten Pasuruan terus memperkuat kapasitas. Siap menghadapi risiko, sigap memberikan respons, dan bertanggung jawab dalam setiap tindakan kemanusiaan. (ARYA)





