Seember Air PMI, Harapan Warga Pasrepan di Tengah Kemarau

Potret Perjuangan Warga Pasrepan Bertahan dari Krisis Air Bersih


PASURUAN, Seputarperistiwanews.com – Musim kemarau yang berkepanjangan tidak hanya mengeringkan sungai dan sumur warga, tetapi juga menguji daya tahan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan paling mendasar, air bersih. Di Dusun Karangpocok, Desa Sibon, Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan, satu ember air memiliki nilai yang jauh melampaui sekedar kebutuhan rumah tangga. Di balik setiap tetesnya, tersimpan perjuangan, pengorbanan, sekaligus harapan untuk tetap bertahan hidup.

Bagi Maulita, warga Dusun Karangpocok, musim kemarau selalu menghadirkan persoalan yang sama setiap tahun. Bersama enam anggota keluarganya, ia harus mengatur penggunaan air dengan sangat hemat. Sungai yang selama ini menjadi sumber utama air kini hanya menyisakan aliran kecil dengan kondisi yang keruh dan berbau sehingga harus disaring terlebih dahulu sebelum digunakan.

"Kalau mandi ya masih di sungai. Airnya sedikit dan baunya tidak enak," tutur Maulita.

Kesulitan tidak berhenti di situ. Untuk memperoleh air layak konsumsi, Maulita harus menempuh perjalanan sekitar lima kilometer menuju desa tetangga. Rutinitas tersebut menjadi beban fisik sekaligus menguras waktu, terutama ketika kebutuhan air meningkat. Harapan terbesar warga hanya tertuju pada kedatangan mobil tangki air bersih yang tidak selalu dapat hadir setiap saat.

"Biasanya kami menunggu truk tangki air datang, tapi sering kali tidak ada yang datang," ujarnya.

Situasi tersebut menggambarkan bahwa krisis air bersih bukan sekedar persoalan keterbatasan sumber daya alam, melainkan juga menyangkut akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar. Ketika air menjadi barang yang sulit diperoleh, aktivitas sederhana seperti memasak, mencuci, hingga menjaga kebersihan diri berubah menjadi tantangan harian yang harus dihadapi dengan penuh kesabaran.

Di tengah kondisi itu, distribusi air bersih yang dilakukan Palang Merah Indonesia (PMI) menjadi secercah harapan bagi warga. Air yang dibawa menggunakan mobil tangki dimanfaatkan untuk memasak, minum, serta memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya. Bagi keluarga Maulita, bantuan tersebut memberikan rasa tenang karena kebutuhan dasar dapat terpenuhi tanpa harus menempuh perjalanan jauh.

"Alhamdulillah, air dari PMI sangat membantu. Bisa dipakai untuk memasak dan kebutuhan sehari-hari," katanya dengan wajah lega.

Cerita serupa dialami Pak Andar, seorang lanjut usia yang tinggal tidak jauh dari rumah Maulita. Bersama lima anggota keluarganya, ia juga harus menghadapi keterbatasan air bersih selama musim kemarau. Sungai yang dahulu menjadi andalan kini tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan keluarga karena debit air terus menyusut dan kualitasnya menurun.

"Kami sangat terbantu dengan adanya bantuan air bersih dari PMI. Sekarang tidak perlu mencari air terlalu jauh untuk kebutuhan sehari-hari," ungkap Pak Andar.

Bagi Pak Andar, air yang mengalir dari mobil tangki PMI bukan sekedar mengisi ember maupun jeriken. Bantuan tersebut mengurangi beban perjalanan mencari air, menjaga keberlangsungan kebutuhan keluarga, sekaligus menghadirkan rasa aman di tengah ketidakpastian musim kemarau yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Fenomena yang dialami warga Dusun Karangpocok memperlihatkan bahwa perubahan iklim dan kemarau panjang telah memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat di wilayah perdesaan. Ketika sumber air alami mulai mengering, kelompok masyarakat dengan keterbatasan akses menjadi pihak yang paling merasakan konsekuensinya. Dalam situasi seperti inilah, kehadiran lembaga kemanusiaan seperti PMI menjadi bentuk respons kemanusiaan yang tidak hanya menyelamatkan kebutuhan fisik, tetapi juga menjaga martabat warga agar tetap dapat menjalani kehidupan secara layak.

Di Dusun Karangpocok, seember air telah menjelma menjadi simbol ketahanan dan solidaritas. Di balik setiap wadah yang terisi penuh, tersimpan kisah tentang perjuangan warga menghadapi kemarau, kepedulian para relawan yang menyalurkan bantuan, serta harapan bahwa tidak ada masyarakat yang harus berjuang sendirian untuk mendapatkan hak paling mendasar: akses terhadap air bersih. Selama masih ada kepedulian yang mengalir, harapan itu akan terus hidup, bahkan di tengah musim yang paling kering sekalipun. (Hafiidh)

Lebih baru Lebih lama