TUBAN, Seputarperistiwanews.com – Pencegahan stunting membutuhkan lebih dari sekedar bantuan pangan atau intervensi medis sesaat. Perubahan pola hidup, penguatan ketahanan pangan keluarga, dan deteksi dini kondisi kesehatan menjadi kunci membangun generasi yang lebih sehat dan berkualitas.
Melalui Program Pengembangan Taman Gizi Keluarga (TaGiKa), ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas menggandeng Yayasan eL-SAL Indonesia untuk mendorong pemanfaatan pekarangan rumah sebagai sumber pangan bergizi di enam desa Kabupaten Tuban. Program ini juga dipadukan dengan layanan pemeriksaan kesehatan gratis guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan penyakit.
Sebagai bagian dari penguatan kapasitas masyarakat, sebanyak 30 anggota Kelompok Kerja (Pokja) TaGiKa mengikuti pelatihan nutrisi keluarga di Kecamatan Rengel, Kamis (30/7/2026). Di saat bersamaan, 45 warga memperoleh layanan pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat sebagai langkah deteksi dini penyakit tidak menular yang berkaitan dengan pola makan dan status gizi.
Ahli Gizi Puskesmas Soko, Erma Dewiarti, menegaskan bahwa pencegahan stunting harus dimulai sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Menurutnya, kebutuhan gizi tidak selalu bergantung pada makanan mahal, tetapi pada kemampuan keluarga menyediakan pangan bergizi seimbang serta membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat.
Penguatan ketahanan pangan keluarga juga menjadi perhatian Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Peternakan (DKP2P) Kabupaten Tuban. Fungsional Analis Ketahanan Pangan, Wiwin Rista Kuswanti, mengatakan pekarangan produktif tidak hanya menghasilkan pangan sehat, tetapi juga menjadi sarana edukasi agar keluarga lebih mandiri memenuhi kebutuhan gizinya.
Layanan kesehatan gratis dalam program ini diselenggarakan Yayasan eL-SAL Indonesia bekerja sama dengan Institut Sains, Teknologi, dan Kesehatan (ISTEK) ICsada Bojonegoro. Selain pemeriksaan medis, warga juga mendapatkan konsultasi kesehatan sesuai hasil pemeriksaan masing-masing sebagai upaya pencegahan penyakit tidak menular.
Perwakilan EMCL, Feni K. Indiharti, menyatakan Program TaGiKa merupakan bentuk komitmen perusahaan mendukung Pemerintah Kabupaten Tuban dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi. Menurutnya, penguatan kapasitas kader dan pemberdayaan masyarakat diharapkan mampu menekan angka stunting sekaligus membangun kemandirian kesehatan keluarga secara berkelanjutan.
Ketua Yayasan eL-SAL Indonesia, Imam Muqroni, berharap anggota Pokja TaGiKa menjadi motor penggerak pola hidup sehat di lingkungannya. Melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, dan masyarakat, Program TaGiKa diharapkan menjadi model pemberdayaan yang mampu memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus mempercepat upaya penurunan stunting di Kabupaten Tuban. (Hafiidh)

