Surabaya, Seputarperistiwanews.com - Kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino 2026 telah memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah Jawa Timur. Curah hujan yang jauh di bawah normal membuat sumur-sumur warga mengering, sementara kebutuhan air untuk minum, memasak, mandi, hingga sanitasi tetap harus dipenuhi setiap hari. Kondisi tersebut memaksa ribuan keluarga menggantungkan harapan pada distribusi air bersih yang disalurkan Palang Merah Indonesia (PMI).
Potret krisis itu terlihat dari deretan jeriken, ember, hingga bak penampung yang sejak pagi memenuhi sudut-sudut permukiman. Wajah-wajah lelah menatap penuh harap ke arah jalan desa, menunggu kedatangan mobil tangki PMI yang menjadi pemandangan paling dinanti di tengah kemarau berkepanjangan. Bagi mereka yang telah berminggu-minggu kesulitan memperoleh air bersih, setiap tetes air yang mengalir bukan lagi sekedar pemenuh kebutuhan sehari-hari, melainkan simbol harapan, ketahanan hidup, dan penyelamat di tengah krisis yang semakin nyata.
Fenomena El Nino 2026 membawa dampak serius di berbagai daerah, mulai dari Kabupaten Bondowoso, Jember, Bangkalan, Pamekasan, Banyuwangi, hingga Kota Surabaya. Di tengah situasi tersebut, ribuan relawan PMI hadir membawa lebih dari sekadar air. Mereka menghadirkan kepedulian, memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap kebutuhan paling mendasar, sekaligus mengalirkan kembali harapan bagi puluhan ribu warga yang terdampak kekeringan.
Di banyak desa, aktivitas sederhana seperti memasak, mandi, mencuci, hingga memenuhi kebutuhan air minum berubah menjadi perjuangan panjang. Sebagian warga harus berjalan lebih jauh mencari sumber air, sementara lainnya hanya bisa menggantungkan harapan pada distribusi bantuan air bersih.
Ketika mobil tangki PMI memasuki kawasan permukiman, suasana yang semula lengang berubah menjadi penuh kehidupan. Anak-anak berlarian membantu orang tua membawa wadah penampung. Para lansia duduk menunggu dengan sabar di depan rumah. Sementara para relawan PMI bergerak cepat membentangkan selang distribusi, mengatur antrean, dan memastikan setiap keluarga memperoleh air secara adil.
Pemandangan tersebut menjadi potret nyata bahwa pelayanan kemanusiaan tidak hanya diukur dari banyaknya bantuan yang diberikan, tetapi juga dari cara bantuan itu menghadirkan kembali rasa aman dan harapan bagi masyarakat.
Bagi para relawan PMI, distribusi air bersih bukan sekedar aktivitas logistik. Di balik setiap jeriken yang terisi penuh, tersimpan kisah seorang ibu yang akhirnya dapat memasak untuk keluarganya. Ada senyum anak-anak yang bisa kembali mandi sebelum berangkat sekolah. Ada lansia yang tak lagi cemas karena kebutuhan air untuk beberapa hari ke depan akhirnya terpenuhi.
Melalui Operasi Kemanusiaan Bencana Kekeringan Dampak El Nino 2026, PMI Provinsi Jawa Timur bersama PMI Kabupaten/Kota terus memperluas jangkauan pelayanan kepada masyarakat terdampak.
Hingga 27 Juli 2026, PMI telah menyalurkan 305.000 liter air bersih kepada 20.649 jiwa yang tersebar di 6 kabupaten/kota, 11 kecamatan, dan 15 desa/kelurahan. Selain distribusi air, PMI juga melaksanakan promosi kesehatan kepada 30 warga sebagai bagian dari upaya mencegah munculnya penyakit akibat keterbatasan akses air bersih.
Data operasi menunjukkan Kabupaten Bondowoso menjadi wilayah dengan distribusi terbesar, yakni 185.000 liter air yang menjangkau 12.467 jiwa atau 5.820 kepala keluarga. Disusul Kabupaten Jember dengan 55.000 liter untuk 3.270 jiwa, Bangkalan dan Pamekasan masing-masing menerima 25.000 liter, Banyuwangi memperoleh 15.000 liter, sementara distribusi juga menjangkau masyarakat di Kota Surabaya.
Namun di balik angka-angka tersebut, terdapat ribuan kisah tentang keluarga yang kembali dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan layak. Air yang mengalir memungkinkan masyarakat memasak makanan bergizi, menjaga kebersihan diri, beribadah dengan nyaman, hingga mengurangi risiko penyakit yang mengintai saat krisis air terjadi.
Para relawan PMI pun menjadi bagian penting dari cerita itu. Sejak pagi hingga petang mereka bekerja tanpa mengenal lelah, memastikan tidak ada warga yang pulang membawa wadah kosong. Mereka membantu mengangkat jeriken yang berat, mendengarkan keluh kesah masyarakat, hingga menyapa anak-anak dengan senyum yang menghadirkan semangat baru di tengah musim kemarau.
Di balik setiap distribusi air bersih, yang sesungguhnya disalurkan bukan hanya ribuan liter air, melainkan nilai-nilai kemanusiaan yang terus hidup melalui aksi nyata para relawan.
Krisis kekeringan mungkin belum berakhir. Musim hujan masih dinantikan. Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan, PMI menegaskan komitmennya untuk terus hadir di garis depan pelayanan kemanusiaan.
Karena pada akhirnya, di balik setiap tetes air yang mengalir, selalu ada harapan yang kembali tumbuh, martabat yang kembali terjaga, dan kemanusiaan yang terus hidup di tengah mereka yang sedang berjuang menghadapi kerasnya musim kemarau. (Hafiidh)



