Antisipasi Kegagalan Industri, Pemkab Tuban dan PHE TEJ Kerahkan 466 Personel dalam Simulasi Darurat Besar di Merakurak

TUBAN, Seputarperistiwanews.com – Pemerintah Kabupaten Tuban bersama PT Pertamina Hulu Energi Tuban East Java (PHE TEJ) memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana kegagalan teknologi industri melalui simulasi skala besar Wet Drill – Command Post Exercise Penanggulangan Keadaan Darurat Bencana Kegagalan Teknologi Industri di Lapangan Desa Sambonggede, Kecamatan Merakurak, Kamis (30/7/2026). Sebanyak 466 personel lintas instansi diterjunkan untuk menguji respons cepat, koordinasi, serta efektivitas sistem penanganan darurat.

Latihan terpadu tersebut melibatkan unsur Satuan Komando Penanganan Darurat Bencana (SKPDB), BPBD Kabupaten Tuban, TNI, Polri, tim tanggap darurat PHE TEJ, serta Relawan Desa Tangguh Bencana (Destana) dari desa-desa di sekitar wilayah operasional perusahaan. Simulasi ini menjadi bagian dari strategi mitigasi risiko guna memastikan seluruh unsur siap menghadapi kemungkinan terjadinya insiden industri.

Dalam sambutan Bupati Tuban yang dibacakan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Tuban, Agus Wijaya, M.A.P., ditegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor merupakan fondasi utama dalam membangun ketangguhan daerah terhadap berbagai ancaman bencana.

Berdasarkan kajian risiko BPBD Kabupaten Tuban, terdapat sedikitnya 15 potensi ancaman bencana yang dapat terjadi di wilayah Tuban, termasuk risiko kegagalan teknologi industri. Karena itu, upaya pengurangan risiko tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri, melainkan harus melibatkan seluruh unsur pentahelix, yakni pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan media sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

"Bencana bukan hanya urusan kemanusiaan semata, melainkan juga menyangkut investasi pembangunan ke depan. Langkah simulasi ini merupakan tahapan nyata untuk melindungi masyarakat serta mewujudkan infrastruktur dan utilitas daerah yang terpadu dan berwawasan lingkungan, selaras dengan semangat Bangun Deso Noto Kutho," tegas Agus Wijaya.

Pemerintah Kabupaten Tuban juga mengingatkan seluruh unsur yang terlibat agar memahami serta menjalankan standar operasional prosedur (SOP) secara disiplin. Langkah tersebut dinilai penting agar penanganan keadaan darurat dapat berlangsung cepat, tepat, dan mampu meminimalkan dampak apabila terjadi insiden sebenarnya.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tuban, Drs. Sudarmaji, M.M., menjelaskan simulasi kali ini dirancang dalam skala besar untuk menguji kesiapan sumber daya manusia sekaligus peralatan penanggulangan bencana yang dimiliki pemerintah daerah dan perusahaan.

"Hari ini kita latih secara maksimal. Secara khusus yang kita latih adalah para anggota Destana di Desa Sumber dan Desa Sambonggede yang lokasinya berdekatan dengan perusahaan. Dalam skenario ini, kita mensimulasikan penanganan darurat kebakaran di area operasional PHE TEJ," ujar Sudarmaji.

Ia menambahkan, BPBD Kabupaten Tuban saat ini telah menjalin kerja sama penanggulangan bencana dengan delapan perusahaan di wilayah Tuban. Menurutnya, konsistensi PHE TEJ dan PT Pertamina EP yang rutin menggelar simulasi keadaan darurat setiap tahun menjadi bentuk komitmen nyata dalam membangun budaya keselamatan dan kesiapsiagaan.

Simulasi di Kecamatan Merakurak menjadi lanjutan dari rangkaian latihan kedaruratan yang sebelumnya telah digelar BPBD Tuban bersama perusahaan migas. Pada 1 Juli 2026, BPBD bersama PT Pertamina EP Sukowati Field melaksanakan Wet Drill di Kecamatan Palang dengan fokus penanganan pencemaran minyak di wilayah perairan. Sementara latihan di Merakurak difokuskan pada penanganan dampak kegagalan teknologi industri di kawasan daratan sekitar fasilitas operasional perusahaan.

Sebelum pelaksanaan latihan lapangan, seluruh tahapan telah dipersiapkan melalui rapat koordinasi pada 15 Juli 2026 di Ruang Rapat Pusdalops-PB BPBD Kabupaten Tuban serta sosialisasi kepada masyarakat Desa Sumber dan Desa Sambonggede pada 22 Juli 2026. Dengan rangkaian tersebut, seluruh pemangku kepentingan diharapkan mampu bertindak cepat, tepat, dan terkoordinasi dalam menghadapi potensi kedaruratan industri, sehingga keselamatan masyarakat dan keberlangsungan pembangunan daerah tetap terjaga. (Hafiidh)

Lebih baru Lebih lama