SURABAYA, Seputarperistiwanews.com — Rumah duka di Pagesangan 1, Surabaya, dipenuhi suasana haru dan khidmat, Senin (14/9) malam. Ratusan jamaah tahlil, warga, tetangga, kerabat, sahabat, hingga rekan sejawat dan seprofesi dari dalam maupun luar kota hadir untuk mengikuti peringatan tujuh hari wafatnya Ibu Aniyah binti Kunasan.
Kedatangan para pelayat berlangsung sejak sore. Mereka datang silih berganti untuk menyampaikan takziah, memanjatkan doa bagi almarhumah, sekaligus memberikan dukungan moral kepada keluarga yang tengah menghadapi kehilangan.
Banyaknya warga dan kolega yang hadir menjadi gambaran kuat tentang luasnya hubungan sosial almarhumah semasa hidup. Rumah duka tidak hanya dipenuhi keluarga dan tetangga, tetapi juga rekan kerja, sahabat, serta sejumlah kolega dari luar daerah.
Almarhumah Ibu Aniyah binti Kunasan merupakan istri Moch. Yahya, S.H., Direktur Utama Redaksi Seputar Peristiwa sekaligus pendiri perkumpulan advokat di Surabaya.
Tahlil, Maulid, dan Doa untuk Almarhumah
Peringatan tujuh hari wafatnya almarhumah diawali dengan tahlil dan doa bersama. Ratusan jamaah mengikuti rangkaian pembacaan tahlil dengan suasana penuh kekhidmatan.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW. Lantunan selawat dan doa semakin menguatkan suasana religius di rumah duka.
Bagi keluarga, kehadiran masyarakat sejak hari pertama wafatnya almarhumah hingga malam peringatan tujuh hari menjadi bentuk perhatian sekaligus kekuatan di tengah suasana kehilangan.
Mewakili keluarga yang berduka, Moch. Yahya, S.H., menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah meluangkan waktu untuk hadir, menyampaikan takziah, serta mendoakan almarhumah.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh hadirin yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu. Sejak wafatnya almarhumah hingga malam ini, perhatian, doa, dan dukungan panjenengan semua menjadi penguat bagi keluarga,” ujar Moch. Yahya, S.H.
Ia menyampaikan bahwa keluarga tidak mungkin membalas seluruh kebaikan dan perhatian yang telah diberikan para pelayat.
“Kami dari keluarga tidak mampu membalas seluruh kebaikan panjenengan semua. Semoga Allah SWT yang membalas dengan pahala dan keberkahan,” pungkasnya
Suasana reflektif semakin terasa ketika Ustaz Lukman menyampaikan mauizah hasanah di hadapan jamaah.
Dalam tausiyahnya, Ustaz Lukman mengingatkan bahwa kematian merupakan ketetapan Allah SWT yang pasti akan dialami setiap makhluk hidup. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindarinya ketika ketentuan tersebut telah tiba.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi jamaah bahwa kepergian seseorang seharusnya tidak hanya menghadirkan kesedihan, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan introspeksi.
Selama masih diberikan kesempatan hidup, manusia diingatkan untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal kebajikan, serta mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.
Peringatan tujuh hari wafatnya Ibu Aniyah binti Kunasan akhirnya bukan sekadar seremoni keluarga. Rumah duka di Pagesangan menjadi ruang bertemunya warga, sahabat, kerabat, dan rekan sejawat dalam satu ikatan kepedulian dan doa.
Kehadiran mereka menunjukkan bahwa duka tidak selalu harus dipikul seorang diri. Di tengah kehilangan, doa, silaturahmi, dan dukungan orang-orang terdekat menjadi kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Malam itu, pesan tentang kematian kembali menggema: hidup memiliki batas, sementara amal kebaikan menjadi bekal yang diharapkan terus menyertai seseorang setelah meninggalkan dunia.
Keluarga besar pun berharap doa yang dipanjatkan bersama menjadi jalan bagi almarhumah untuk memperoleh ampunan dan rahmat Allah SWT, diterima seluruh amal ibadahnya, dilapangkan alam kuburnya, serta ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya.
Doa terus mengalir. Duka mungkin tidak segera reda, tetapi kebaikan, keteladanan, dan kenangan tentang Ibu Aniyah diharapkan tetap hidup di hati keluarga, sahabat, dan setiap orang yang pernah mengenalnya. (red)



