PASURUAN, Seputarperistiwanews.com — Ancaman bencana tak mengenal waktu. Dari Markas PMI Kabupaten Pasuruan, Selasa (8/9/2026), PMI Kabupaten Pasuruan mulai menggembleng relawan melalui Bimbingan Teknis Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Masyarakat (Bimtek KBBM) 2026. Bukan sekadar pelatihan, kegiatan ini menjadi langkah memperkuat SIBAT sebagai garda terdepan masyarakat agar mampu mengenali risiko, bergerak cepat, dan tidak hanya menunggu bantuan ketika bencana datang.
Sekretaris PMI Kabupaten Pasuruan, Sumantri, M.Pd., membuka kegiatan sekaligus menyampaikan materi Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT). Ia menekankan perlunya memperkuat kapasitas masyarakat dan relawan, sekaligus memperluas program SIBAT di sejumlah wilayah Kabupaten Pasuruan.
“PMI sebagai NGO memiliki peran membantu pemerintah dalam bidang kebencanaan,” ujar Sumantri. Menurutnya, PMI merupakan organisasi kemanusiaan non-pemerintah yang berperan sebagai mitra pemerintah, bukan pengganti fungsi pemerintah, melalui jaringan relawan, sumber daya dan kapasitas kemanusiaan yang dimiliki.
Peran tersebut dijalankan sejak pra-bencana hingga pemulihan, mulai dari edukasi, simulasi, kajian risiko, pemetaan dan peningkatan kapasitas, hingga dukungan tanggap darurat seperti pertolongan pertama, pelayanan kesehatan, evakuasi, ambulans, air bersih dan sanitasi, dukungan psikososial serta asesmen kebutuhan masyarakat. Sumantri juga mengaitkan peran PMI dengan UU Nomor 1 Tahun 2018 tentang Kepalangmerahan.
Materi berikutnya disampaikan Andris Rufianto Kepala Bidang Pelayanan PMI Propinsi Jawa Timur, yang membahas sejarah PMI, mandat kemanusiaan, struktur organisasi, tugas pokok dan fungsi, serta siklus penanggulangan bencana. Ia menjelaskan PMI dibentuk pada 17 September 1945 sebagai Perhimpunan Palang Merah Nasional di Indonesia dan dalam pelaksanaan tugasnya membantu pemerintah di bidang kemanusiaan.
Sementara itu, Amirul Yasin Kepala Bidang Administrasi PMI Kabupaten Malang menegaskan pentingnya peran SIBAT pada fase pra-bencana. Menurutnya, masyarakat perlu diperkuat dalam mitigasi struktural dan nonstruktural, termasuk kemampuan melakukan kaji cepat, menyusun SOP, berkontribusi dalam Musrenbang, serta membuat pemetaan risiko bencana untuk mengetahui ancaman, kerentanan dan kapasitas wilayah.
“Dalam pra-bencana, SIBAT dapat berperan melalui kaji cepat, berkontribusi dalam penyusunan SOP, termasuk melalui Musrenbang, serta pembuatan peta risiko bencana,” terang Amirul. Pemetaan dan kajian tersebut menjadi bagian penting agar masyarakat tidak hanya menunggu bantuan ketika bencana terjadi, tetapi memiliki kesiapan untuk mengambil tindakan awal.
Melalui Bimtek KBBM 2026, PMI Kabupaten Pasuruan mendorong peningkatan kompetensi relawan sekaligus memperkuat masyarakat sebagai bagian dari garda kesiapsiagaan bencana. Targetnya jelas: membangun SIBAT yang siaga, tangguh dan terlatih, sehingga pengurangan risiko bencana dimulai dari masyarakat sebelum ancaman benar-benar terjadi. (ARYA)



