Dari Bukit untuk Sebuah Panggilan, Kini Pieter Tak Lagi Harus Berjalan Jauh

Nagekeo (NTT), Seputarperistiwanews.com - Dari sebuah bukit sekitar setengah kilometer dari rumahnya, Pieter Petrus Bernabas Bado (57) pernah berulang kali mencari sinyal demi satu hal sederhana melihat wajah anaknya di Makassar.

Setelah gempa mengguncang Flores, keinginan Pieter untuk memastikan anaknya baik-baik saja menjadi semakin kuat. Namun, kondisi jaringan komunikasi di Desa Riti, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, yang berada di kawasan perbukitan, membuat komunikasi dengan keluarga tidak selalu mudah.

Untuk sekedar melakukan panggilan video, Pieter harus berjalan menuju bukit. Dalam beberapa kesempatan, ia sudah tiga kali melakukan perjalanan itu demi mengabari anaknya.

“Kemarin sudah tiga kali saya ke bukit untuk menelepon video untuk mengabari anak saya. Tapi sekarang enak, tinggal video juga sudah ada PMI dan dibantu sama petugas,” ujar Pieter.

Baginya, panggilan video bukan hanya tentang berbicara. Ada rasa lega ketika layar telepon akhirnya memperlihatkan wajah anaknya di Makassar. Pieter bisa mendengar suara anaknya, sekaligus mengabarkan bahwa dirinya berada dalam keadaan baik.

Begitu pula sebaliknya, ia dapat memastikan kondisi anaknya dari kejauhan.

“Yang penting bisa lihat anak dan bisa saling mengabari. Saya juga merasa tenang kalau sudah dengar suara dan lihat anak,” tutur Pieter.

Kesulitan berkomunikasi sebenarnya bukan baru dirasakan setelah gempa. Kondisi jaringan di Desa Riti memang terbatas. Pieter mengatakan, sebelumnya masyarakat sempat terbantu dengan koneksi Starlink. Namun, saat ini layanan tersebut sudah terputus.

“Sekarang Starlink juga sudah terputus. Kami di desa masih menunggu kabel optik yang sampai sekarang belum datang. Itu sudah ditunggu dari sebelum gempa,” ungkapnya.

Kondisi semakin sulit ketika gempa terjadi dan listrik sempat padam. Saat itu, Pieter tidak bisa menggunakan telepon untuk menghubungi anaknya.

“Apalagi waktu awal kemarin listrik padam, tidak bisa telepon sama sekali,” katanya.

Dalam keadaan seperti itu, bukit menjadi tempat yang harus didatangi untuk mendapatkan sinyal. Jarak sekitar setengah kilometer mungkin terdengar tidak terlalu jauh, tetapi perjalanan tersebut harus dilakukan hanya untuk mendapatkan kesempatan berbicara dengan keluarga.

Kini, kehadiran layanan Restoring Family Links (RFL) PMI memberikan kemudahan bagi Pieter dan warga lainnya. PMI menyediakan sarana komunikasi gratis yang dapat digunakan masyarakat untuk menghubungi keluarga, termasuk mereka yang menghadapi keterbatasan akses komunikasi setelah bencana.

Dengan bantuan petugas, Pieter tidak perlu lagi mencari titik sinyal di atas bukit. Ia cukup datang ke lokasi layanan dan kembali melakukan panggilan video.

Bagi Pieter, teknologi sederhana berupa telepon dan panggilan video memiliki arti yang jauh lebih besar setelah bencana. Di balik layar kecil itu, ada wajah anak yang ingin ia pastikan baik-baik saja.

Sudah tiga kali ia berjalan ke bukit untuk melakukan panggilan video. Kini, ia bisa melakukan hal yang sama dengan lebih mudah melalui layanan RFL PMI.

Jarak antara Desa Riti dan Makassar memang tidak berubah. Jaringan yang sulit juga belum sepenuhnya pulih. Tetapi setidaknya, ada satu jalan lain yang membuat Pieter kembali bisa terhubung dengan keluarganya.

Di tengah keterbatasan pascagempa, RFL PMI menjadi jembatan bagi Pieter untuk tetap mendengar suara anaknya dan memastikan bahwa, sejauh apa pun jaraknya, mereka masih bisa saling menyapa. (Hafiidh)

Lebih baru Lebih lama