Bukan Sekedar Camping, 33 Siswa SMK Taruna Bhakti Gempol Belajar Jadi Pemimpin

PASURUAN, Seputarperistiwanews.com – Kepemimpinan tidak cukup dipelajari dari teori di dalam kelas. Bagi 33 siswa SMK Taruna Bhakti Gempol, belajar menjadi pemimpin justru dilakukan melalui pengalaman langsung di alam terbuka mulai dari mendirikan tenda, menyelesaikan tantangan bersama, hingga belajar mengambil keputusan dalam sebuah tim.

Pengalaman itu mereka jalani dalam Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) OSIS SMK Taruna Bhakti Gempol yang digelar pada 11–12 September 2026 di Bumi Perkemahan Kakek Bodo, Tretes, Prigen, Kabupaten Pasuruan. Selama dua hari, para siswa tidak hanya mengikuti rangkaian kegiatan organisasi, tetapi juga ditempa untuk membangun kemandirian, kedisiplinan, komunikasi, dan rasa tanggung jawab.

Mengusung tema “Bersama, Berbagi Cerita, Membangun Jiwa Kepemimpinan”, LDKS menjadi ruang bagi siswa untuk memahami bahwa menjadi pemimpin bukan hanya soal memberi arahan. Lebih dari itu, seorang pemimpin dituntut mampu bekerja sama, mendengarkan orang lain, menyelesaikan persoalan, dan mengambil keputusan bersama.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan keberangkatan peserta menuju lokasi perkemahan. Sesampainya di Bumi Perkemahan Kakek Bodoh, para siswa langsung beradaptasi dengan lingkungan melalui pemasangan tenda dan makan siang bersama.

Setelah salat Asar dan pembukaan, peserta mengikuti fun game leadership yang dipandu oleh trainer. Permainan dirancang untuk mengasah kemampuan komunikasi, kekompakan, kepercayaan, kepemimpinan, serta kemampuan mengambil keputusan dalam kelompok.

Suasana kegiatan pun tidak hanya diisi dengan tantangan. Momen kebersamaan dan berbagi cerita menjadi bagian dari proses peserta membangun kedekatan satu sama lain.

Bagi Dini Nur Rohmah, salah satu peserta, LDKS memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan pembelajaran di sekolah.

“Menurut saya, LDKS ini bukan hanya tentang camping dan kegiatan bersama teman-teman. Di sini kami belajar bagaimana menjadi lebih disiplin, mandiri, bertanggung jawab, dan bisa bekerja sama dengan orang lain,” ujar Dini.

Ia mengakui beberapa kegiatan terasa melelahkan dan tidak mudah. Namun, justru dari tantangan tersebut ia mendapatkan banyak pengalaman baru.

“Awalnya mungkin terasa capek dan tidak mudah, tetapi justru dari situ kami belajar. Banyak pengalaman baru yang kami dapatkan dan tentunya menjadi kenangan yang tidak akan kami lupakan,” tuturnya.

Sementara itu, Akhmad Shofuwan Nuvail, S.Pd., MM., mengatakan LDKS merupakan bagian dari proses pendidikan untuk membentuk karakter siswa, khususnya mereka yang akan menjalankan peran dalam organisasi OSIS.

“LDKS bukan sekedar kegiatan perkemahan atau kegiatan di luar sekolah. Ini merupakan bagian dari proses pendidikan untuk membentuk karakter, kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, serta jiwa kepemimpinan siswa,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman yang diperoleh siswa selama LDKS diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman selama kegiatan. Nilai-nilai tersebut perlu dibawa kembali ke sekolah dan diterapkan dalam aktivitas organisasi maupun kehidupan sehari-hari.

“Kami ingin setiap siswa pulang dari kegiatan ini membawa pengalaman, nilai-nilai positif, dan semangat baru untuk menjadi pribadi yang lebih baik serta mampu menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain,” pungkasnya.

Dua hari di alam terbuka akhirnya menjadi lebih dari sekedar agenda LDKS. Di balik tenda dan permainan kelompok, para siswa belajar bahwa kepemimpinan dibangun melalui proses dari berani mengambil tanggung jawab, mampu bekerja sama, hingga menghargai peran setiap anggota tim.

Bekal itulah yang diharapkan dibawa 33 siswa tersebut ketika kembali ke sekolah untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka di OSIS SMK Taruna Bhakti Gempol. (Hafiidh)

Lebih baru Lebih lama