NAGEKEO (NTT), Seputarperistiwanews.com — Aktivitas pembelajaran di SMPS Katolik ST. Yoseph Kalasansa Boanio, Kabupaten Nagekeo, masih berlangsung di tenda darurat setelah gempa bumi mengguncang wilayah tersebut. Kondisi ini menjadi langkah sementara agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan di tengah situasi pascagempa.
Sebanyak 113 siswa mengikuti proses pembelajaran di sekolah tersebut, terdiri dari 69 siswa laki-laki dan 44 siswa perempuan. Kegiatan pendidikan didukung oleh 12 guru dan 1 pegawai.
Kepala Sekolah SMPS Katolik ST. Yoseph Kalasansa Boanio, Aman Gole, mengatakan sebelum mendapatkan dukungan dari PMI, pihak sekolah berupaya memenuhi kebutuhan tempat belajar sementara dengan memanfaatkan terpal yang berasal dari orang tua siswa.
“Sejak gempa, pembelajaran akhirnya kami lakukan di tenda darurat. Sebelumnya kami menggunakan atap terpal yang kami minta dari orang tua siswa. Kondisinya memang masih sederhana, tetapi kami berusaha agar anak-anak tetap bisa belajar,” ujar Aman Gole.
Pada Selasa (8/9/2026), Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Nagekeo membantu kebutuhan sekolah dengan menyediakan 6 lembar terpal untuk mendukung fasilitas pembelajaran darurat.
Aman mengatakan bantuan tersebut sangat membantu sekolah, terutama dalam menyediakan tempat belajar yang lebih layak bagi siswa selama kondisi pascagempa masih berlangsung.
“Dengan adanya bantuan dari PMI hari ini, kami sangat terbantu. Terpal ini bisa digunakan untuk mendukung tempat belajar sementara sehingga kegiatan pembelajaran anak-anak dapat tetap berjalan,” katanya.
Selain kebutuhan ruang belajar sementara, pihak sekolah juga menyampaikan kebutuhan tandon air berkapasitas 1.200 liter yang akan digunakan sebagai tempat penampungan air untuk kebutuhan MCK sekolah. Ketersediaan air menjadi salah satu kebutuhan penting untuk mendukung kebersihan dan sanitasi siswa maupun tenaga pendidik selama proses pembelajaran berlangsung di tengah kondisi pascagempa.
Ketua PMI Kabupaten Nagekeo mengatakan dukungan terhadap sekolah tersebut berawal dari komunikasi pihak sekolah dengan PMI pada 4 September 2026. Saat itu, pihak sekolah menyampaikan kebutuhan untuk mendukung ruang belajar darurat pascagempa.
“Awalnya sekolah menghubungi saya pada tanggal 4 September. Saya informasikan agar pihak sekolah membuat surat permohonan dan menyiapkan kerangkanya terlebih dahulu, sehingga dari pihak PMI nantinya dapat membantu memasangkan terpalnya,” ujar Ketua PMI Kabupaten Nagekeo.
Setelah kerangka tenda disiapkan dan terpasang oleh pihak sekolah, PMI bersama tim kemudian datang ke sekolah pada Selasa (8/9/2026) untuk membantu memasangkan terpal.
“Setelah kerangkanya terpasang, hari ini kami bersama tim datang untuk memasangkan terpal. Kami berharap bantuan ini bisa membuat tempat belajar sementara menjadi lebih layak dan membantu guru maupun siswa selama proses pemulihan pascagempa,” katanya.
Terkait kebutuhan tandon air, PMI juga mencatat kebutuhan tersebut sebagai bagian dari dukungan terhadap air, sanitasi, dan kebersihan (WASH) di lingkungan sekolah.
Bantuan enam lembar terpal tersebut menjadi bagian dari dukungan PMI Kabupaten Nagekeo terhadap keberlangsungan pendidikan di wilayah terdampak gempa. Di tengah keterbatasan pascabencana, dukungan terhadap fasilitas belajar serta kebutuhan air dan sanitasi diharapkan dapat membantu siswa dan guru tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar dengan lebih aman, nyaman, dan bersih. (Hafiidh)


