Bimtek KBBM 2026 PMI Kabupaten Pasuruan Resmi Ditutup, SIBAT Didorong Berfungsi Maksimal

PASURUAN, Seputarperistiwanews.com — Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Pasuruan resmi menutup rangkaian Bimbingan Teknis Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Masyarakat (Bimtek KBBM) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, 8–10 September 2026. Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) dalam menghadapi risiko bencana di tingkat lokal.

Penutupan kegiatan dihadiri jajaran PMI Kabupaten Pasuruan. Mewakili Kepala PMI Kabupaten Pasuruan H. Agus Sutiadji, S.H., M.Si., kegiatan penutupan diwakili A. Syauqil Adib, M.Pd.I., selaku Ketua Bidang Penanggulangan Bencana (PB) dan Relawan.

Turut hadir Kholidi, M.Pd., Ketua Bidang Humas PMI Kabupaten Pasuruan, serta Rifian, Kasi Pelayanan Markas PMI Kabupaten Pasuruan.

Bimtek tersebut menghadirkan narasumber Andris Rufianto, Kepala Bidang Pelayanan PMI Provinsi Jawa Timur, dan Amirul Yasin, Kepala Bidang Administrasi PMI Kabupaten Malang.

Materi yang diberikan selama kegiatan mencakup penguatan pemahaman mengenai kebencanaan, peran SIBAT, identifikasi dan pemetaan risiko, kesiapsiagaan masyarakat, sistem peringatan dini, evakuasi, koordinasi, hingga penanganan bencana dan pemulihan pascabencana.

Kasi Pelayanan Markas PMI Kabupaten Pasuruan, Rifian, menegaskan bahwa kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan peserta, tetapi dapat diterapkan secara nyata di wilayah masing-masing.

“Harapannya ke depan SIBAT bisa berfungsi maksimal, baik dalam tanggap darurat bencana maupun pada masa prabencana,” ujar Rifian.

Menurutnya, keberadaan SIBAT memiliki posisi strategis karena berada dekat dengan masyarakat. Kapasitas relawan perlu terus diperkuat agar mampu melakukan langkah-langkah kesiapsiagaan sebelum bencana sekaligus memberikan dukungan ketika bencana terjadi.

Sementara itu, Sugito, perwakilan SIBAT Kecamatan Rejoso, menilai keikutsertaannya dalam Bimtek KBBM 2026 memberikan pengalaman sekaligus pengetahuan yang sangat berarti. Menurutnya, rangkaian materi dan proses pembelajaran selama kegiatan tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga memperkuat pemahaman mengenai pentingnya kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana yang dibangun dari kapasitas masyarakat di tingkat lokal.

Melalui kegiatan tersebut, Sugito mengaku memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kedudukan dan peran SIBAT sebagai bagian dari unsur masyarakat yang memiliki posisi strategis dalam upaya pengurangan risiko bencana. Pemahaman tersebut menjadi bekal bagi relawan untuk mengenali potensi ancaman di wilayahnya, membangun kesiapsiagaan bersama masyarakat, serta mendorong keterlibatan warga dalam menghadapi berbagai kemungkinan bencana.

Bagi Sugito, penguatan kapasitas SIBAT tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan merespons ketika bencana terjadi. Lebih dari itu, SIBAT perlu hadir sejak sebelum bencana melalui peningkatan kesadaran, identifikasi risiko, pemetaan kerawanan, edukasi, hingga penguatan kesiapsiagaan masyarakat. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi pihak yang menerima bantuan ketika bencana terjadi, tetapi memiliki kemampuan untuk mengambil langkah awal secara mandiri dan terorganisasi.

Berbagai materi yang disampaikan juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya identifikasi risiko, pemetaan potensi bencana, peningkatan kapasitas masyarakat, sistem peringatan dini, evakuasi, serta koordinasi dan komunikasi ketika menghadapi situasi darurat.

Bimtek juga menjadi ruang pembelajaran bersama bagi peserta untuk bertukar pengalaman dan memahami karakteristik risiko bencana di masing-masing wilayah. Pengetahuan tersebut menjadi bekal bagi SIBAT agar mampu menjalankan perannya secara lebih terarah, terkoordinasi, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Sebagai tindak lanjut, peserta berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama Bimtek dapat diterapkan secara konkret di lingkungan masing-masing.

SIBAT diharapkan tidak sekadar hadir ketika bencana terjadi, tetapi aktif membangun budaya kesiapsiagaan, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana, serta mendorong keterlibatan warga dalam setiap tahapan penanggulangan bencana.

Penguatan tersebut dinilai membutuhkan keberlanjutan melalui pembinaan, pendampingan, simulasi, serta koordinasi antara SIBAT, PMI, pemerintah, dan berbagai unsur terkait.

Dengan penguatan yang berkelanjutan, SIBAT diharapkan mampu berkontribusi dalam seluruh siklus penanggulangan bencana, mulai dari pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat hingga pemulihan pascabencana.

Penutupan Bimtek KBBM 2026 sekaligus menjadi momentum untuk memastikan hasil pembelajaran selama tiga hari tidak berhenti sebagai pengetahuan di ruang pelatihan. Kapasitas tersebut diharapkan diterjemahkan menjadi tindakan nyata di tengah masyarakat.

Melalui penguatan peran SIBAT, PMI Kabupaten Pasuruan mendorong terbentuknya masyarakat yang semakin sadar terhadap risiko, memiliki kapasitas menghadapi ancaman bencana, serta mampu mengambil langkah secara cepat dan tepat ketika menghadapi kondisi darurat.

Kesiapsiagaan bencana pada akhirnya bukan hanya tanggung jawab relawan atau lembaga kemanusiaan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat agar terbentuk komunitas yang tangguh, mandiri, dan siap menghadapi risiko bencana. (ARYA)

Lebih baru Lebih lama