PASURUAN, Seputarperistiwanews.com — Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan memfasilitasi kegiatan asah dan penyegaran kembali tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) bersama Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI), Selasa (18/8/2026). Kegiatan ini menjadi ruang penyegaran pengetahuan dan keterampilan bagi berbagai unsur yang berhadapan langsung dengan potensi kegawatdaruratan medis maupun kebencanaan.
Kegiatan berlangsung di Ruang Rapat Lantai 3 Gedung Kapiten, Dinas Kesehatan Daerah, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Pasuruan, Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Pasuruan, Jalan Raya Raci Km 9, Bangil. Peserta berasal dari BPBD, PMI, TAGANA, BAGANA, FPRB, serta REDKAR Kabupaten Pasuruan.
Bagi masyarakat umum, kemampuan pertolongan awal menjadi penting karena kegawatdaruratan dapat terjadi kapan saja, mulai dari kecelakaan, bencana, hingga kondisi medis yang mengancam nyawa. Karena itu, keterampilan penolong tidak cukup hanya diketahui secara teori, tetapi perlu terus disegarkan dan dilatih agar dapat diterapkan secara cepat dan tepat.
HIPGABI menekankan prinsip 3A: Aman Diri, Aman Lingkungan, dan Aman Korban. Penolong harus memastikan keselamatan diri dan lingkungan terlebih dahulu sebelum memberikan pertolongan, kemudian menilai kondisi korban untuk menentukan tindakan yang sesuai.
Peserta juga kembali mendapatkan penyegaran pemeriksaan kesadaran dan pernapasan hingga Resusitasi Jantung Paru (RJP). Dua narasumber HIPGABI, Ida Zuhroidah, S.Kep., Ns., M.Kes. dan Dian Rahmadin Akbar, S.Kep., Ns., M.Kep., menegaskan bahwa kualitas RJP sangat menentukan kualitas pertolongan pada korban kegawatdaruratan.
Dalam praktik BHD, peserta mengingat kembali kompresi dada berkualitas pada korban dewasa, yakni dilakukan di tengah dada dengan kedalaman sekitar 5–6 sentimeter dan kecepatan 100–120 kali per menit. Dada harus dibiarkan kembali mengembang sempurna setelah setiap kompresi, sementara jeda yang tidak diperlukan diminimalkan.
Apabila Automated External Defibrillator (AED) tersedia, perangkat dapat digunakan sesuai kondisi korban, petunjuk perangkat, dan kompetensi penolong. Pesan yang ditekankan HIPGABI, pertolongan tidak cukup mengandalkan keberanian, tetapi membutuhkan pengetahuan, teknik, ketenangan, ketepatan, serta konsistensi tindakan.
Bagi segenap unsur organisasi kerelawanan di Kabupaten Pasuruan, refresh BHD bukan sekedar mengulang teori, melainkan menghidupkan kembali kesiapan untuk bertindak ketika setiap detik menentukan hidup dan mati. Sinergi Dinas Kesehatan, HIPGABI, BPBD, PMI, TAGANA, BAGANA, FPRB, dan REDKAR menjadi gambaran bahwa kekuatan penanggulangan kegawatdaruratan dan bencana bertumpu pada manusia yang terlatih, sigap, tenang, dan mampu mengambil tindakan tepat di saat paling genting.
Sebab ketika keadaan darurat datang tanpa aba-aba, pertolongan pertama tidak boleh menunggu. Pengetahuan harus berubah menjadi keterampilan, keterampilan menjadi tindakan, dan tindakan menjadi harapan, karena di balik setiap detik yang diselamatkan, ada satu nyawa yang masih memiliki kesempatan untuk bertahan.
Joko Handoko, salah satu peserta FPRB Kabupaten Pasuruan, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada dr. Arma Rosalina, M.Kes., selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan, serta drg. Boy Zulvikhar Vaus, Ida Zuhroidah, S.Kep., Ns., M.Kes., dan Dian Rahmadin Akbar, S.Kep., Ns., M.Kep., dari HIPGABI selaku narasumber yang telah memberikan ilmu, pengalaman, serta kesempatan berharga untuk belajar dan berlatih kembali.
“Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya dan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk kembali belajar, berlatih, dan mengasah kemampuan, khususnya dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan di lapangan.
Bagi kami sebagai bagian dari FPRB, ilmu dan pengalaman yang diberikan dalam kegiatan ini merupakan bekal yang sangat penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan sekaligus memperkuat kemampuan dalam memberikan pertolongan ketika dibutuhkan masyarakat.
Terima kasih telah memberikan ruang bagi kami untuk belajar dan terus belajar. Karena dalam dunia kemanusiaan, berhenti belajar berarti berhenti mempersiapkan diri untuk menyelamatkan sesama.” ujar Joko Handoko.
(ARYA)



