Manggarai (NTT), Seputarperistiwanews.com - Di tengah situasi pascagempa bumi dan guncangan susulan, anak-anak di lokasi pengungsian terus mendapatkan dukungan untuk membantu mereka melewati masa sulit. Layanan dukungan psikososial diberikan melalui berbagai aktivitas yang ramah anak, menyenangkan, dan edukatif.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Universitas Indonesia (UI), Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA), serta Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Manggarai. Sebanyak 103 anak, mulai dari usia satu tahun hingga siswa SMP kelas IX, mengikuti rangkaian kegiatan yang disesuaikan dengan kelompok usia masing-masing.
Kegiatan dilakukan dua kali sehari, yaitu pada pagi hari setelah anak-anak sarapan dan sore hari setelah bangun tidur. Anak-anak diajak mengikuti berbagai aktivitas seperti bermain plastisin, menggambar, bernyanyi, bercerita, ice breaking, serta permainan edukatif lainnya.
Layanan ini merupakan kolaboratif antara Perwakilan dari Universitas Indonesia (UI) sebanyak 2 orang, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Manggarai. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari penanganan bencana karena pemulihan tidak hanya dilakukan terhadap kebutuhan fisik, tetapi juga kondisi mental dan emosional para penyintas.
Menurut Yuliana Rosna, S.Psi., pembagian permainan berdasarkan usia membuat anak-anak lebih mudah mengikuti kegiatan dan memberikan respons yang sangat aktif serta ceria.
“Jadwal kegiatan dilakukan dua kali sehari, yaitu pagi hari setelah anak sarapan pagi dan sore hari saat anak bangun tidur siang. Metodenya dalam bentuk permainan dan di hari terakhir kita libatkan ibu-ibu juga,” ujar Yuliana.
Pasca gempa dihari pertama sampai hari ini, anak-anak sudah tidak sekolah.
"Harapannya anak-anak tetap mendapatkan kegiatan belajar mengajar meski tidak sesuai dengan kurikulum yang berlaku". Kita memberikan edukasi berupa ilmu kebencanaan yaitu bagaimana cara melindungi diri dari gempa, kekerasan seksual, bullying dan ide-ide lainnya.
" Kita tidak tau kapan bencana ini berakhir, tapi dengan adanya aktivitas ini anak-anak berhak mendapatkan haknya".
Selain memberikan ruang bermain dan berinteraksi, kegiatan juga menjadi sarana edukasi bagi anak-anak yang sementara waktu belum dapat bersekolah secara normal setelah gempa. Materi yang diberikan meliputi edukasi kebencanaan, cara melindungi diri saat terjadi gempa bumi, pencegahan kekerasan seksual, bullying, serta berbagai pengetahuan lain yang relevan dengan kondisi anak di pengungsian.
“Harapannya anak-anak tetap mendapatkan kegiatan belajar mengajar meski tidak sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Kita tidak tahu kapan bencana ini berakhir, tapi dengan adanya aktivitas ini anak-anak berhak mendapatkan haknya,” ungkapnya.
Pada sore hari, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi singkat bencana gempa bumi yang didampingi oleh Palang Merah Indonesia Kabupaten Manggarai. Simulasi dikemas dalam bentuk permainan edukatif sehingga anak-anak dapat belajar mengenai keselamatan diri dengan cara yang menyenangkan.
Edho Gabut, selaku fasilitator simulasi, menyampaikan bahwa permainan tersebut memiliki pesan penting mengenai bagaimana melindungi diri ketika gempa bumi terjadi.
“Dalam permainan edukasi ini memiliki pesan yang sangat bermakna, yaitu bagaimana cara melindungi diri saat gempa bumi berlangsung,” tutup Edho.
Dukungan psikososial ini menjadi bagian penting dalam respons bencana. Pemulihan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga bagaimana memastikan anak-anak tetap merasa aman, mendapatkan kesempatan untuk bermain dan belajar, serta memiliki ruang untuk mengekspresikan diri di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.
Melalui kolaborasi lintas pihak, anak-anak diharapkan dapat melewati masa sulit pascabencana dengan lebih tenang, percaya diri, ceria, dan penuh harapan. (ARYA)




