Warga Kalirejo Rembug Malam Bahas EWS Digital “Si TITIR” untuk Antisipasi Banjir


Pasuruan, Seputarperistiwanews.com - Suasana serambi rumah Suryo Agung Ruriyanto yang berada perumahan D'Graha C.16, Desa Manaruwi, Kecamatan Bangil, tampak berbeda pada Minggu Malam (29/3),  bukan arisan, bukan pula rapat RT. Sejumlah warga berkumpul dalam rembug santai yang justru membahas gagasan serius, membangun sistem peringatan dini banjir berbasis elektronik digital yang mereka sebut “Si TITIR”.

Pertemuan itu digelar di kediaman seorang rekan yang dikenal gemar bereksperimen dengan perangkat elektronik sederhana. Di serambi yang dipenuhi peralatan, papan rangkaian, dan sketsa di atas kertas, obrolan warga mengerucut pada satu persoalan yang selama ini mereka hadapi, genangan air yang kerap datang tanpa peringatan, dan banjir yang acap kali membuat warga kelabakan menyelamatkan barang-barang.

Amrul, salah satu warga yang ikut memantik diskusi, menjelaskan bahwa “Si TITIR” lahir dari keresahan bersama. “Kami berpikir, kenapa tidak membuat pedoman awal atau early warning system (EWS) sederhana yang bisa memberi tanda sebelum air benar-benar meluap ke permukiman. Bukan sistem yang rumit, tapi yang bisa kami pahami, rawat, dan kembangkan sendiri,” ujarnya.

Gagasan itu kemudian diterjemahkan dalam bentuk mekanisme kerja yang relatif sederhana, sensor ketinggian air ditempatkan di titik rawan genangan, terhubung dengan modul elektronik yang mampu mengirimkan sinyal peringatan berupa bunyi sirene, lampu indikator, hingga notifikasi ke ponsel warga melalui jaringan digital. Sistem ini dirancang berbasis komponen yang mudah diperoleh di pasaran, dengan biaya yang dapat dijangkau oleh swadaya warga.

Dalam rembug tersebut, warga tidak hanya membahas aspek teknis, tetapi juga skema partisipasi. Siapa yang memasang, siapa yang memantau, dan bagaimana sistem ini bisa dirawat secara gotong royong. Mereka sepakat bahwa teknologi tidak boleh berdiri sendiri tanpa keterlibatan komunitas.

Sementara itu, Nur Wahyudianse, yang akrab disapa Rejo, menyampaikan alasan mendasar mengapa inovasi ini dianggap penting. “Lingkungan kami ini termasuk wilayah yang sering terdampak genangan air sampai banjir. Kadang air datang malam hari saat orang sudah tidur. Dengan adanya inovasi ini, kami berharap ada peringatan dini bagi masyarakat lokal agar bisa lebih siap,” ungkapnya.

Menurut Rejo, selama ini warga hanya mengandalkan informasi dari mulut ke mulut atau pengamatan visual saat air sudah terlihat naik. Kondisi tersebut dinilai terlambat, terutama bagi warga lanjut usia atau keluarga dengan anak kecil.

Menariknya, “Si TITIR” bukan digagas oleh lembaga resmi atau proyek pemerintah, melainkan dari diskusi warga yang dipantik oleh kebutuhan nyata di lapangan. Rembug malam itu memperlihatkan bagaimana literasi teknologi di tingkat kampung mulai tumbuh, bukan sekedar sebagai pengguna, tetapi sebagai perancang solusi.

Warga berharap, jika purwarupa “Si TITIR” berhasil diuji di lingkungan mereka, konsep ini bisa direplikasi di titik-titik rawan lain di Kalirejo, bahkan di wilayah Bangil yang memiliki karakteristik serupa.

Di tengah tantangan banjir yang datang hampir setiap musim hujan, rembug kecil di serambi itu menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium besar. Kadang, ia berawal dari keresahan warga, secarik kertas sketsa, dan keinginan kuat untuk saling menjaga melalui teknologi terapan yang sederhana namun bermakna. (ARYA)

Lebih baru Lebih lama