Sejak pagi, antrean warga terlihat tertib di bibir pantai. Perahu-perahu nelayan yang biasanya digunakan melaut, hari itu difungsikan untuk mengantar warga berkeliling perairan Gumeng. Bukan sekadar rekreasi, praonan menjadi ruang perjumpaan antara tradisi, kebersamaan, dan kebanggaan identitas pesisir.
"Praonan", Hiburan Rakyat yang Sarat Makna. Panitia bersama para pemilik perahu bersepakat menggratiskan kegiatan ini. Bagi warga, kesempatan menikmati laut dari atas perahu menjadi pengalaman yang jarang dirasakan, terutama bagi anak-anak dan kaum ibu.
Hasan Bisri, salah satu pemilik perahu, menyebut praonan gratis sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus upaya mengenalkan keindahan laut Gumeng kepada masyarakat.
“Kami ingin warga bisa merasakan langsung suasana laut. Ini bagian dari kecintaan kami pada tradisi dan kampung halaman,” ujarnya.
Kegiatan sederhana ini berubah menjadi hiburan rakyat yang penuh makna. Tawa anak-anak, obrolan hangat antarwarga, serta semilir angin laut menciptakan suasana riyoyo kupat yang khas pesisir.
Praonan tak bisa dilepaskan dari tradisi petik laut, ritual syukur masyarakat nelayan atas rezeki yang diberikan laut. Warga menyaksikan langsung prosesi budaya tersebut dari perahu, menjadikan pengalaman spiritual dan kultural menyatu dalam satu momen.
Tradisi ini bukan sekadar seremonial, tetapi cara masyarakat pesisir menjaga hubungan dengan alam sekaligus mempererat solidaritas sosial.
Antusiasme warga lokal hingga pengunjung dari luar daerah menunjukkan bahwa Gumeng Riyoyo Kupat memiliki daya tarik lebih dari sekadar tradisi tahunan. Jika dikelola serius, kegiatan ini berpotensi menjadi wisata budaya unggulan di Pasuruan.
Warga berharap perhatian pemerintah daerah semakin besar, baik dalam bentuk dukungan fasilitas maupun promosi, agar tradisi praonan dan petik laut tetap lestari dan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Di tengah arus modernisasi, Gumeng Riyoyo Kupat membuktikan bahwa tradisi lokal masih hidup, dirawat, dan dicintai. Praonan gratis bukan hanya tentang naik perahu, tetapi tentang menjaga napas budaya nelayan agar tetap berlayar dari generasi ke generasi. (G10)

