Gagal Menanjak, Kereta Wisata Mundur Tanpa Rem Tabrak Tiang Listrik


Mojokerto, Seputarperistiwanews.com — Kecelakaan kereta wisata atau odong-odong yang mengangkut 25 orang rombongan di jalan menanjak Desa Jatidukuh, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, tidak hanya menyisakan duka. Peristiwa yang menewaskan satu penumpang dan melukai sejumlah lainnya itu memunculkan dugaan adanya persoalan serius pada aspek keselamatan kendaraan.

Berdasarkan penelusuran di lokasi, jalur yang dilalui kendaraan diketahui memiliki kemiringan cukup tajam dengan kontur beton menanjak panjang. Warga sekitar menyebut, jalur tersebut bukan rute umum kendaraan wisata, apalagi bagi kendaraan dengan muatan penuh.

Kasatlantas Polres Mojokerto, AKP Yogie Pratama, menyatakan kendaraan tidak mampu menanjak karena beban berat dan kemudian bergerak mundur tanpa pengereman hingga menabrak tiang listrik.

“Kendaraan turun ke bawah tanpa adanya pengereman dan menabrak tiang listrik hingga berhenti,” ujarnya.

Pernyataan ini memunculkan pertanyaan krusial, mengapa kendaraan tidak melakukan pengereman saat mundur di tanjakan curam?

Sejumlah warga menduga sistem pengereman tidak berfungsi optimal. Odong-odong yang umumnya merupakan kendaraan modifikasi kerap tidak memiliki standar keselamatan laik jalan sebagaimana angkutan penumpang pada umumnya.

Saksi mata di lokasi, S., menyebut sebenarnya terdapat petunjuk arah yang mengarahkan kendaraan untuk berbelok ke kanan guna menghindari tanjakan ekstrem. Namun kereta wisata tetap melaju lurus.

“Ada petunjuk arah ke kanan, tapi tetap lurus. Jalannya memang curam sekali,” ujarnya.

Hal ini mengindikasikan kemungkinan pengemudi tidak memahami karakter medan atau kurang mengenali rute yang dilalui.

Korban meninggal dunia, S. (47), warga Desa Mlaten, Kecamatan Puri, diduga terlempar saat kendaraan terguling. Fakta ini menunjukkan minimnya pengaman penumpang pada kereta wisata tersebut, seperti sabuk pengaman atau pembatas pengaman yang memadai.

Seluruh korban, termasuk anak-anak, dievakuasi ke RSUD Sumberglagah, Puskesmas Gondang, dan RSUD Prof dr Soekandar Mojosari.

Peristiwa ini kembali menyoroti keberadaan kereta wisata atau odong-odong yang marak digunakan untuk mengangkut rombongan warga dalam berbagai kegiatan. Kendaraan jenis ini sering kali merupakan hasil modifikasi dengan kapasitas besar, namun tidak selalu melalui uji kelayakan teknis secara berkala.

Pihak kepolisian menyatakan masih melakukan penyelidikan terkait kemungkinan kelalaian pengemudi maupun kondisi teknis kendaraan.

Kecelakaan ini menjadi peringatan serius bagi pengelola kereta wisata dan pihak terkait untuk meninjau kembali standar keselamatan, terutama saat melintasi jalur dengan medan ekstrem. (Fandi)

Lebih baru Lebih lama