SIBAT DESA DRINGU DORONG PENATAAN PERAHU NELAYAN UNTUK LINDUNGI MANGROVE PROGRAM PMI DAN PT PAITON ENERGY

Probolinggo (DRINGU), Seputarperistiwanews.com – Keberlanjutan tanaman mangrove di kawasan pesisir Desa Dringu, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, membutuhkan dukungan dan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat nelayan setempat. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah keberadaan perahu nelayan yang masih banyak terparkir di sekitar area penanaman mangrove hasil program Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan CSR PT Paiton Energy.

Melalui Tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) Desa Dringu, berbagai persoalan di kawasan penanaman mangrove terus diidentifikasi untuk mencari solusi bersama. Keterlibatan SIBAT menjadi penting dalam menjembatani kebutuhan masyarakat dengan upaya pelestarian lingkungan pesisir.

Heri, selaku anggota SIBAT Desa Dringu, menjelaskan bahwa keberadaan perahu nelayan yang terparkir di sekitar tanaman mangrove menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keberlangsungan program penghijauan. Para nelayan masih memanfaatkan kawasan tersebut sebagai tempat parkir perahu karena adanya pertimbangan biaya apabila harus memindahkan perahu ke lokasi lain.

Menurut Heri, masyarakat nelayan sebenarnya memiliki keinginan untuk menggeser lokasi parkir perahu agar lebih jauh dari tanaman mangrove. Namun, diperlukan fasilitas pendukung yang dapat mengakomodasi kebutuhan para nelayan, salah satunya melalui pembangunan dermaga atau jembatan sebagai tempat tambat dan parkir perahu.

“Kalau di kawasan pesisir Desa Dringu dibangun dermaga atau jembatan, otomatis perahu-perahu nelayan bisa dipindahkan ke area tersebut. Saat ini permasalahannya, banyak perahu nelayan yang masih terparkir di sekitar lokasi penanaman mangrove. Kalau dipindahkan, nelayan juga mempertimbangkan biaya parkir tambahan yang harus mereka keluarkan,” jelas Heri.

Ia menambahkan, masyarakat nelayan mengusulkan agar apabila tersedia dermaga, perahu-perahu dapat digeser menjauh sekitar 100 meter dari kawasan tanaman mangrove. Dengan demikian, aktivitas nelayan tetap dapat berjalan tanpa mengganggu pertumbuhan mangrove yang telah ditanam.

Heri juga menyampaikan bahwa usulan tersebut terinspirasi dari kawasan wisata BJBR (Bee Jay Bakau Resort) di Kota Probolinggo. Di kawasan wisata tersebut terdapat jembatan kayu yang dibangun di atas kawasan mangrove sehingga dapat menjadi salah satu gambaran penataan kawasan pesisir yang menggabungkan fungsi lingkungan dan aktivitas masyarakat.

Menurutnya, penataan kawasan pesisir dengan menyediakan fasilitas dermaga maupun jembatan diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengurangi aktivitas perahu di sekitar area penanaman mangrove. Selain itu, kawasan tersebut juga berpotensi dikembangkan menjadi ruang edukasi lingkungan dan wisata berbasis mangrove.

Melalui peran SIBAT Desa Dringu, PMI Kabupaten Probolinggo berharap aspirasi masyarakat nelayan dapat menjadi bahan koordinasi dan pembahasan bersama dengan pemerintah desa, pemerintah daerah, serta pihak terkait. Penyelesaian persoalan ini membutuhkan pendekatan yang memperhatikan kepentingan masyarakat sekaligus keberlanjutan lingkungan.

Program penanaman mangrove yang dilaksanakan PMI Kabupaten Probolinggo melalui kerja sama CSR PT Paiton Energy bukan hanya bertujuan mengurangi dampak abrasi, tetapi juga mendorong tumbuhnya kepedulian masyarakat terhadap perlindungan ekosistem pesisir.

Dengan adanya komunikasi dan kolaborasi antara SIBAT, masyarakat nelayan, PMI, dan pemerintah, diharapkan dapat ditemukan solusi penataan kawasan yang saling mendukung. Mangrove tetap terjaga, sementara aktivitas dan kebutuhan masyarakat nelayan juga dapat terakomodasi.

Keberhasilan program penghijauan pesisir pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga oleh kemampuan seluruh pihak dalam menjaga, merawat, dan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan mangrove secara berkelanjutan. (Hafiidh)

Lebih baru Lebih lama