Pasuruan, Seputarperistiwanews.com – Hasil pemeriksaan golongan darah menjadi pengalaman berkesan bagi Septiano Keisha R., remaja berusia 15 tahun. Saat mengikuti pemeriksaan golongan darah gratis yang diselenggarakan Palang Merah Indonesia (PMI) di SMPN 1 Rembang, ia terkejut mengetahui bahwa dirinya memiliki golongan darah B rhesus negatif (B−), berbeda dari teman-temannya yang mendapatkan rhesus positif (+).
Perbedaan hasil tersebut membuat Septiano penasaran. Ia tidak menyangka bahwa golongan darahnya memiliki tanda negatif, sementara teman-temannya memperoleh hasil positif. Pengalaman itu menjadi kesempatan baginya untuk mengenal lebih jauh karakteristik golongan darah yang dimilikinya.
“Awalnya kaget, karena yang lain mendapatkan positif (+), sedangkan saya mendapatkan negatif (−),” ungkap Septiano.
Rasa terkejut itu kemudian berkembang menjadi rasa ingin tahu tentang latar belakang keluarganya. Septiano menduga bahwa kakek dan neneknya mungkin memiliki keturunan dari luar negeri. Namun, dugaan tersebut masih sebatas perkiraan. Rhesus negatif diwariskan secara genetik dan tidak secara otomatis menunjukkan bahwa seseorang memiliki keturunan dari luar negeri.
Golongan darah B negatif merupakan kombinasi golongan darah ABO dan faktor rhesus yang relatif jarang ditemukan pada banyak populasi. Golongan darah ABO ditentukan berdasarkan karakteristik antigen A dan B pada sel darah merah, sedangkan faktor rhesus, terutama antigen Rh(D), menentukan apakah darah seseorang tergolong positif atau negatif.
Melalui pemeriksaan gratis di SMPN 1 Rembang, Septiano mendapatkan pengetahuan baru tentang dirinya. Kegiatan yang diselenggarakan PMI ini juga menjadi sarana edukasi bagi peserta didik untuk mengenal golongan darah dan memahami manfaat informasi kesehatan sejak usia sekolah.
Mengetahui golongan darah sejak dini dapat menjadi bekal penting dalam pelayanan kesehatan, termasuk ketika seseorang membutuhkan transfusi darah. Meski demikian, kecocokan darah tetap harus dipastikan melalui pemeriksaan medis oleh tenaga kesehatan.
Bagi Septiano, pengalaman ini bukan sekadar mengetahui jenis darah yang dimilikinya. Ia juga mulai memahami bahwa setiap orang memiliki karakteristik golongan darah yang berbeda, dan pengetahuan tersebut dapat bermanfaat dalam berbagai situasi kesehatan.
Di balik keterkejutannya mengetahui golongan darah B negatif, ada keinginan yang membuat pengalamannya semakin bermakna. Septiano berharap suatu hari nanti dapat menjadi pendonor darah ketika usianya telah memenuhi persyaratan.
“Nanti kalau usia saya sudah memenuhi syarat untuk donor darah, saya mau ikut berdonor darah karena saya bisa membantu orang lain,” ungkapnya.
Keinginan tersebut menunjukkan tumbuhnya kepedulian Septiano terhadap sesama. Di usianya yang masih 15 tahun, ia telah memiliki niat untuk berkontribusi bagi orang lain melalui donor darah.
Untuk saat ini, keinginan tersebut masih menjadi harapan yang menunggu waktu. Septiano perlu memenuhi persyaratan usia, kondisi kesehatan, dan ketentuan donor darah yang berlaku sebelum dapat mendonorkan darahnya. Namun, niat untuk membantu orang lain telah tumbuh sejak ia mengenal golongan darahnya sendiri.
Pengalaman Septiano menjadi gambaran bahwa pemeriksaan golongan darah di sekolah dapat memberikan manfaat lebih dari sekadar hasil pemeriksaan. Kegiatan ini membuka kesempatan bagi peserta didik untuk mengenali diri, menambah pengetahuan kesehatan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Bagi Septiano, golongan darah B negatif yang semula membuatnya terkejut kini menjadi pengetahuan baru yang berharga. Ia tidak hanya mengetahui sesuatu yang berbeda tentang dirinya, tetapi juga memiliki harapan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.
Hari ini, Septiano mengenali golongan darahnya melalui pemeriksaan gratis PMI di sekolah. Kelak, ketika telah memenuhi persyaratan, ia berharap dapat menjadi pendonor darah dan membantu mereka yang membutuhkan. Sebuah niat sederhana yang mengingatkan bahwa semangat kemanusiaan dapat tumbuh sejak usia muda. (Hafiidh)


