Mahasiswa KKN UINSA Lestarikan Tradisi Pengajian Rutin dan Syi'iran Buk Gebluk di Desa Sumberglagah

Pasuruan, Seputarperistiwanews.com  --Bersama menjadi semangat yang terlihat saat mahasiswa KKN 101 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya mengikuti pengajian rutin Malam Selasa di Masjid Baiturrahman, Desa Sumberglagah, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan. 

Kehadiran mahasiswa dalam kegiatan tersebut menunjukkan dukungan terhadap pelestarian tradisi keagamaan yang telah berlangsung secara turun-temurun dan masih dijaga oleh masyarakat, khususnya warga Dusun Krajan.

Pengajian rutin ini mendapat sambutan antusias dari warga yang memenuhi masjid untuk mengikuti rangkaian kegiatan. Selain menjadi sarana memperdalam ilmu agama, kegiatan tersebut juga mempererat hubungan sosial antarwarga serta menjadi ruang silaturahmi lintas generasi. Mahasiswa KKN turut berbaur dengan masyarakat sebagai bagian dari proses belajar dan pengabdian kepada masyarakat.

Sebelum pengajian dimulai, masyarakat terlebih dahulu melantunkan syi'iran yang dikenal dengan sebutan Buk Gebluk. Tradisi ini memiliki ciri khas berupa lantunan syair yang diiringi tepuk tangan dan pukulan bantal sehingga menghasilkan irama yang unik. Dari kebiasaan tersebut kemudian lahir sebutan "Buk Gebluk" yang hingga kini masih dipertahankan.

Syi'iran Buk Gebluk dikenal sebagai salah satu media dakwah yang menggunakan syair berbahasa Madura. Isi syair memuat berbagai ajaran fikih yang dirangkum dari sejumlah kitab fikih, kemudian disusun dalam bentuk syair agar lebih mudah dipahami masyarakat. 

Tradisi ini lazim ditampilkan dalam pengajian rutin, peringatan hari besar Islam, maupun berbagai kegiatan keagamaan di wilayah Kecamatan Rembang.

Usai syi'iran selesai dilantunkan, kegiatan dilanjutkan dengan pengajian kitab An-Nashaih ad-Diniyah wa Al-Washaya Al-Imaniyyah yang disampaikan oleh Ust. Nidhom. Dalam ceramahnya, beliau menyampaikan pesan yang mengajak jamaah untuk menjaga keikhlasan dalam beribadah.

Salah satu kutipan yang disampaikan berbunyi, "Lebih baik makan ingat salat daripada salat ingat makan." Pesan tersebut mengandung makna bahwa seseorang lebih baik menjalankan aktivitas sehari-hari sambil tetap mengingat kewajiban beribadah, daripada melaksanakan ibadah tetapi pikirannya justru dipenuhi urusan dunia.

Melalui kajian kitab tersebut, masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai ajaran Islam sekaligus menjaga tradisi keilmuan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi di Desa Sumberglagah.

Salah seorang jamaah mengaku merasa senang mengikuti pengajian rutin Malam Selasa karena kegiatan tersebut telah menjadi tradisi sejak zaman para leluhur. Menurutnya, pengajian tidak hanya menjaga warisan keagamaan, tetapi juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan sehari-hari.

"Enak, lek mari ngaji ati rumongso seneng. Mergane misal awak iki lagi rumongso salah, dadine iso eleng-eleng," ujarnya.

Bagi mahasiswa KKN UIN Sunan Ampel Surabaya, keterlibatan dalam pengajian rutin menjadi pengalaman berharga untuk memahami kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat. Mereka dapat melihat secara langsung bagaimana tradisi keagamaan tetap hidup melalui partisipasi aktif warga dari berbagai kalangan.

Kehadiran mahasiswa juga memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menjaga nilai-nilai keislaman, budaya, serta semangat gotong royong.

Tradisi seperti pengajian rutin dan syi'iran Buk Gebluk menjadi bukti bahwa warisan budaya religius mampu bertahan di tengah perkembangan zaman apabila terus dirawat bersama. 

Melalui keterlibatan generasi muda, tradisi tersebut diharapkan tetap lestari dan menjadi sumber pembelajaran yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas. (Basir)

1 Komentar

Lebih baru Lebih lama