PASURUAN, Seputarperistiwanews.com — Suasana meriah dan penuh semangat kebersamaan menyelimuti halaman PP Darun Nasiruddin di Sambirejo, Rejoso, Pasuruan. Dalam rangka Imtihan dan Halal Bihalal 2026, pesantren yang diasuh oleh Drs. Rois Nasiruddin ini menggelar rangkaian kegiatan bertajuk Gebyar Kreasi Santri dan Budaya yang berlangsung selama tiga hari, Jumat hingga Ahad, 17–19 April 2026.
Kegiatan ini menjadi ajang unjuk bakat dan kreativitas santri sekaligus momentum mempererat ukhuwah antara santri, alumni, wali santri, dan masyarakat sekitar. Seluruh rangkaian acara dipusatkan di halaman pesantren dan terbuka untuk umum, sehingga turut mengundang antusiasme warga sekitar.
Pada Jumat dan Sabtu malam, 17–18 April 2026 mulai pukul 19.00 WIB, digelar Malam Gembira Santri. Berbagai penampilan seni dan budaya disuguhkan oleh para santri, mulai dari hadrah, drama islami, puisi religi, hingga pertunjukan seni tradisional yang dikemas secara menarik dan edukatif. Penampilan tersebut tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat pesan moral dan nilai-nilai keislaman.
Memasuki Ahad sore, 19 April 2026 pukul 14.00 WIB, kemeriahan semakin terasa dengan digelarnya Karnaval Santri. Para santri tampil dengan kostum kreatif bernuansa budaya dan keislaman, berkeliling area sekitar pesantren sebelum kembali ke halaman utama. Karnaval ini menjadi daya tarik tersendiri yang membuat masyarakat memadati lokasi kegiatan untuk menyaksikan kreativitas para santri.
Masih di hari yang sama, Ahad malam Senin pukul 19.00 WIB, suasana berubah menjadi khidmat melalui kegiatan Istighfaran Kejeron. Para santri, pengasuh, dan jamaah bersama-sama melantunkan istighfar dan doa sebagai ungkapan rasa syukur serta harapan akan keberkahan di masa mendatang.
Melalui kegiatan ini, PP Darun Nasiruddin tidak hanya menunjukkan keberhasilan pendidikan santri dalam bidang keilmuan, tetapi juga dalam pengembangan kreativitas seni, pelestarian budaya, serta penguatan nilai-nilai spiritual dan kebersamaan di tengah masyarakat. Gebyar ini menjadi bukti bahwa pesantren mampu menjadi pusat pendidikan sekaligus pusat budaya dan harmoni sosial di lingkungan sekitarnya. (Wahyu Ari)

