Bangkit dari Luka, Menjadi Juara Nasional

Pasuruan, Seputarperistiwanews.com - Layar Zoom menampilkan wajah Putri Aulia Dwi Rizky Islami sore itu. Di balik koneksi virtual yang sederhana, tersimpan kisah luar biasa dari seorang siswi kelas 8 MTsN 2 Pasuruan. Dengan suara tenang dan tutur kata yang runtut, Aulia mulai membuka lembar demi lembar perjalanan hidupnya tentang luka, perjuangan, hingga akhirnya berdiri di puncak prestasi nasional.

Di rumahnya yang sederhana di Babat, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, kehidupan Aulia berjalan seperti remaja pada umumnya. Sepulang sekolah, ia membantu orang tuanya menyiapkan makan malam. Setelah itu, ia meluangkan waktu untuk mengaji. Rutinitas tersebut bukan sekedar kegiatan harian, tetapi menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter disiplin, tanggung jawab, dan keteguhan hati yang kini melekat dalam dirinya.

Namun, di balik keseharian yang tampak biasa itu, Aulia pernah mengalami masa yang begitu sulit. Sebelum melanjutkan pendidikan ke MTsN, ia berada di titik terendah dalam hidupnya. Ia menjadi korban bullying fisiknya dihina, namanya dijelekkan melalui hoaks di media sosial, bahkan ia mengalami kekerasan dari teman sekelasnya. Pengalaman itu meninggalkan luka yang mendalam, bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental.

“Waktu itu aku jadi takut bertemu orang dan tidak percaya diri,” ungkapnya pelan melalui layar.

Rasa takut itu sempat membuatnya menarik diri dari lingkungan sosial. Ia merasa tidak cukup baik, tidak cukup kuat, dan kehilangan arah. Namun, di tengah keterpurukan tersebut, Aulia mengambil keputusan yang mengubah hidupnya ia memilih untuk bangkit.

Perlahan, ia mulai mendorong dirinya sendiri untuk berubah. Ia tidak ingin terus terjebak dalam bayang-bayang masa lalu. Dengan tekad yang kuat, ia mulai mencari jati diri melalui pendidikan. Ia aktif mencari informasi, belajar lebih giat, dan mencoba memahami potensi yang dimilikinya. Dalam proses itu, ia menemukan ketertarikannya pada Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

“Awalnya aku hanya ingin membuktikan kalau aku bisa,” ujarnya.

Langkah kecil itu menjadi awal dari perjalanan panjang. Aulia mulai mengikuti berbagai bimbingan belajar dan les tambahan di beberapa tempat. Ia juga aktif mengikuti kompetisi, mulai dari tingkat antar sekolah hingga tingkat nasional. Kesempatan besar datang ketika wali kelasnya melihat potensi dalam dirinya dan mendorongnya untuk mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN).

Dorongan tersebut menjadi titik balik penting. Dari sana, Aulia mulai mengembangkan kemampuannya secara lebih terarah. Ia tidak hanya belajar lebih keras, tetapi juga lebih cerdas. Ia memahami bahwa kunci keberhasilan bukan terletak pada lamanya belajar, melainkan pada pemahaman yang mendalam.

“Belajar itu tidak harus lama, yang penting fokus dan paham. Terutama IPA, itu bukan untuk dihafal, tapi dipahami cara berpikirnya,” jelasnya.

Di balik semua itu, ada dukungan besar dari keluarga yang selalu menguatkan langkahnya. Sang ibu mengaku terharu melihat perubahan signifikan dalam diri Aulia.

“Dulu saya khawatir dia takut bersosialisasi. Tapi sekarang, dia sudah berani tampil, punya banyak teman, dan berprestasi. Saya sangat bangga,” tuturnya.

Meski begitu, perjalanan Aulia tidak selalu berjalan mulus. Ia juga pernah mengalami kegagalan. Ada momen di mana usahanya belum membuahkan hasil sesuai harapan. Rasa sedih dan kecewa tentu hadir, namun ia tidak membiarkan dirinya terlarut terlalu lama.

“Sedih pasti, tapi itu jadi motivasi untuk mencoba lagi dan lebih baik,” katanya.

Ketekunan dan konsistensi akhirnya membawa Aulia pada pencapaian yang membanggakan. Ia berhasil meraih berbagai prestasi, di antaranya medali emas Airlangga Champions Language (ACL) 2024 tingkat kota, Juara 3 BBS tingkat kabupaten 2025, Juara OSN tingkat provinsi 2025, Juara 1 OMI se-Kabupaten 2025, hingga puncaknya Juara 1 Nasional POSI 2026.

Salah satu momen paling berkesan dalam hidupnya adalah saat ia dinyatakan lolos ke tingkat nasional.

“Waktu itu aku benar-benar kaget. Itu level tertinggi, dan aku tidak menyangka bisa sampai di sana, bahkan menjadi juara,” kenangnya dengan mata berbinar.

Keberhasilan tersebut bukan hanya tentang piala atau medali, tetapi tentang perjalanan panjang mengalahkan rasa takut, membangun kembali kepercayaan diri, dan membuktikan bahwa masa lalu tidak menentukan masa depan.

Kini, Aulia terus menatap masa depan dengan penuh semangat. Ia memiliki cita-cita untuk terus berkembang dan meraih prestasi yang lebih tinggi lagi. Baginya, perjalanan belum selesai justru baru dimulai.

Melalui kisahnya, ia ingin menyampaikan pesan kepada teman-teman seusianya yang mungkin sedang berada dalam kondisi sulit.

“Jangan takut mencoba. Kalau gagal, tidak apa-apa. Yang penting tetap konsisten dan jangan mudah menyerah,” pesannya.

Dari layar Zoom yang sederhana itu, Aulia tidak hanya bercerita tentang dirinya. Ia menghadirkan harapan bahwa setiap luka bisa menjadi kekuatan, setiap keterpurukan bisa menjadi titik awal kebangkitan.

Kisah Putri Aulia Dwi Rizky Islami adalah bukti nyata bahwa dari titik terendah sekalipun, seseorang tetap bisa bangkit, melangkah, dan bahkan bersinar di puncak kesuksesan. (Hafiidh)

Lebih baru Lebih lama