Sinergi Pemerintah dan Ulama Bangun Bangil Religius dalam Safari Ramadhan di Masjid Baitul Muttaqien

Pasuruan, Seputarperistiwanews.com – Safari Ramadhan 1447 H/2026 yang digelar Forkopimcam Bangil bersama MWC NU Bangil di Masjid Baitul Muttaqien, Kelurahan Latek, bukan sekedar agenda seremonial tahunan. Di balik suasana khidmat dan penuh kehangatan, terselip pesan kuat tentang sinergi kepemimpinan, ketahanan sosial, dan kewaspadaan lingkungan di tengah tantangan cuaca ekstrem yang kian nyata. Minggu (1/3)

Kegiatan yang dihadiri Camat Bangil EDDY SANTOSO, S.E., M.M., Sekretaris Kecamatan Bangil BUDI MULYONO, S.E., serta SUJARNO, S.T., Kepala Kelurahan Latek, bersama jajaran Forkopimcam Bangil, menjadi ruang temu antara umara dan ulama. Warga memadati masjid, menandai antusiasme masyarakat terhadap forum yang tidak hanya bernuansa religius, tetapi juga edukatif.

Dalam sambutannya, EDDY SANTOSO menekankan bahwa Safari Ramadhan harus dimaknai sebagai forum strategis membangun komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat. Menurutnya, stabilitas wilayah tidak hanya ditopang oleh kebijakan administratif, tetapi juga oleh kekuatan moral dan spiritual masyarakat.

“Sinergi pemerintah dan ulama adalah fondasi utama menjaga Bangil tetap aman, religius, dan harmonis,” tegasnya.

Namun, sambutan Camat Bangil tidak berhenti pada pesan spiritual. Ia secara lugas menyoroti ancaman riil yang dihadapi wilayahnya: potensi banjir akibat cuaca ekstrem. Secara geografis, Bangil berada di antara aliran Sungai Kedunglarangan dan Sungai Badong, dua sungai besar yang menjadi faktor penentu risiko hidrologis kawasan hilir.

“Disaat hulu sudah kondisi hujan dengan intensitas deras dan lama, sudah bisa diantisipasi bahwa hilir di Bangil akan terdampak banjir,” ujarnya.

Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Pola hujan ekstrem di wilayah hulu kerap memicu peningkatan debit air secara cepat, yang berdampak langsung pada kawasan hilir seperti Bangil. Karena itu, ia mendorong langkah preventif berbasis partisipasi masyarakat—mulai dari disiplin tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan drainase, hingga menghidupkan kembali budaya gotong royong.

“Untuk itu marilah kita tetap menjaga lingkungan kita dari ancaman banjir,” pungkasnya, menegaskan pentingnya tanggung jawab kolektif.


Dimensi spiritual kegiatan ini diperkaya dengan tausiah KH. Zainuddin Syirot yang mengangkat tema pembentukan karakter melalui ibadah Ramadhan. Ia menegaskan bahwa puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan proses pendidikan jiwa, melatih kesabaran, menjaga lisan, serta memperkuat ukhuwah Islamiyah.

“Persatuan adalah kekuatan umat. Jangan mudah terpecah oleh perbedaan,” pesannya di hadapan jamaah.

Ia juga mengajak masyarakat memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an dan meningkatkan kepedulian sosial melalui sedekah serta perhatian kepada sesama. Nilai-nilai Ramadhan, menurutnya, harus melampaui batas waktu satu bulan dan menjelma menjadi karakter keseharian.

Safari Ramadhan di Masjid Baitul Muttaqien akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan keagamaan. Ia tampil sebagai forum konsolidasi moral, edukasi kebencanaan, dan penguatan kohesi sosial. Di tengah tantangan cuaca ekstrem dan dinamika sosial yang terus berkembang, sinergi antara pemerintah dan ulama menjadi kunci membangun Bangil yang religius, tangguh, dan berkelanjutan.


ARYA

Lebih baru Lebih lama