Pasuruan, Seputarperistiwanews.com – Jambore FPRB Kabupaten Pasuruan yang digelar pada Kamis, 15 November 2024, di Kantor BPBD Kabupaten Pasuruan, Jalan Raya Wangon Bendungan, Kecamatan Kraton, membawa angin segar bagi kesadaran masyarakat tentang peran penyandang disabilitas dalam kebencanaan. Dengan tema "Sinergi Komunitas Untuk Kesiapsiagaan dan Pengurangan Risiko Bencana", acara ini dihadiri oleh perwakilan dari 24 kecamatan di Kabupaten Pasuruan dan diisi dengan berbagai kegiatan edukasi serta sarasehan tentang mitigasi bencana.
Salah satu sorotan utama dalam sarasehan tersebut adalah pentingnya melibatkan penyandang disabilitas dalam perencanaan dan penanganan bencana. Denni Kurniawan, Tenaga Pendamping FPRB sekaligus Ketua Pertuni Kabupaten Pasuruan, menyampaikan bahwa meskipun kepedulian terhadap penyandang disabilitas sudah semakin berkembang di masyarakat, masih banyak yang belum memahami bagaimana cara evakuasi yang tepat untuk mereka. “Masyarakat umumnya peduli, namun saat bencana datang, mereka sering kali tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membantu penyandang disabilitas dengan benar. Padahal, respons yang cepat dan tepat bisa menyelamatkan nyawa,” ujar Denni.
Denni menekankan, bahwa setiap jenis disabilitas memiliki kebutuhan khusus yang harus diperhatikan dalam situasi darurat. Untuk penyandang disabilitas daksa (fisik), misalnya, evakuasi yang efisien bisa dilakukan dengan cara memberikan sentuhan tubuh untuk mengarahkan mereka, serta memberikan informasi yang jelas dan langsung. Di sisi lain, bagi penyandang tuna rungu wicara (tuli), pendekatan komunikasi visual seperti kedipan lampu dengan warna tertentu atau memberi isyarat melalui gerakan mulut terbuka dan tepukan di pundak sangat penting untuk memastikan mereka memahami instruksi.
Selain itu, Denni juga mengingatkan agar penyandang difabel intelektual diberikan instruksi yang sederhana, singkat, dan jelas. Pendekatan ini penting agar mereka tidak bingung dan bisa cepat merespon dalam situasi yang penuh tekanan seperti bencana.
Dengan pemahaman yang lebih baik tentang teknik-teknik evakuasi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing jenis disabilitas, Denni berharap masyarakat dapat lebih siap dalam menghadapi bencana. Menurutnya, penyandang disabilitas tidak hanya harus dilibatkan dalam program-program edukasi bencana, tetapi juga diberdayakan agar mereka dapat berperan aktif dalam upaya mitigasi bencana. “Penyandang disabilitas juga bagian dari masyarakat yang berhak untuk merasa aman dan terlibat dalam upaya penanggulangan bencana. Ini bukan hanya soal kesiapsiagaan, tapi juga soal pemberdayaan,” tambahnya.
Harapannya, melalui Jambore FPRB ini, kesadaran akan pentingnya inklusivitas dalam penanggulangan bencana semakin meningkat, dan semua pihak dapat bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi semua, tanpa terkecuali.
(Arya)

