Manggarai, Seputarperistiwanews.com — Di tengah guncangan gempa yang masih dirasakan sejak 15 Agustus 2026, warga di sejumlah wilayah Kecamatan Reok dan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, masih berupaya bertahan dan mencari tempat yang lebih aman.
Melihat kondisi tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) bergerak melakukan asesmen cepat untuk mengetahui kondisi warga dan kebutuhan yang paling mendesak. Pendataan dilakukan pada 18–19 Agustus 2026 di Kelurahan Wangkung, Desa Robek, Desa Paralando, dan Lemarang.
Bersama pemerintah desa dan tim Siaga Berbasis Masyarakat (SIBAT), PMI mendata jumlah warga terdampak, jumlah kepala keluarga, jumlah jiwa, kondisi serta kerusakan rumah, hingga keberadaan warga yang mengungsi di titik-titik aman maupun yang memilih mengungsi secara mandiri.
Di lapangan, kondisi warga tidak semuanya mudah. Sebagian masih mendirikan tenda di lokasi yang dinilai belum aman. Bahkan, ada warga yang hanya memanfaatkan keteduhan pohon untuk berlindung karena belum memiliki terpal.
Melihat kondisi tersebut, tim SIBAT tidak hanya melakukan pendataan, tetapi juga memberikan sosialisasi dan pendampingan kepada warga mengenai pentingnya memilih lokasi yang aman untuk berlindung dan mendirikan tenda. Warga diimbau untuk menghindari area di sekitar bangunan yang berpotensi roboh, tebing, maupun lokasi lain yang dapat membahayakan keselamatan, terlebih gempa susulan masih terjadi.
Tim SIBAT juga mengajak warga menempatkan tenda di titik pengungsian yang telah disepakati bersama pemerintah desa. Pendampingan ini dilakukan agar masyarakat dapat berlindung dengan lebih aman, terutama anak-anak, bayi, lansia, dan kelompok rentan lainnya.
“Masyarakat sangat membutuhkan terpal untuk mendirikan tenda,” ujar Lukas Kasman, aparat desa yang turut bergabung dalam tim SIBAT.
Lukas mengatakan, di beberapa titik pengungsian terdapat tenda yang kondisinya tidak layak. Di dalamnya terdapat anak-anak dan bayi yang membutuhkan tempat berlindung yang lebih aman dan nyaman.
“Di tenda yang tidak layak huni itu juga ada banyak anak-anak dan bayi. Ada juga warga yang masih bertahan di rumah karena tidak memiliki terpal,” lanjutnya.
Selain melakukan pendataan, tim SIBAT bersama pemerintah desa juga menyalurkan bantuan berupa beras kepada warga terdampak. Bantuan tersebut berasal dari Istana Kepresidenan Republik Indonesia.
Dukungan juga datang dari pihak lainnya. Apotek Rajawali Ruteng turut membantu masyarakat dengan menyediakan obat-obatan, bubur, serta pampers untuk bayi.
Dari hasil asesmen sementara, kebutuhan warga masih cukup beragam. Terpal menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak, disusul dukungan tenaga medis, hygiene kit, baby kit, pampers bayi, sembako, dan obat-obatan.
Bagi PMI, pendataan ini bukan sekadar menghitung jumlah warga terdampak. Data tersebut menjadi dasar untuk melihat kondisi nyata di lapangan dan memastikan bantuan dapat diberikan sesuai kebutuhan masyarakat.
Namun, proses asesmen tidak berjalan tanpa kendala. Gangguan jaringan listrik menyebabkan sistem pendataan secara daring tidak dapat digunakan secara optimal. Di sisi lain, gempa susulan yang masih terjadi membuat tim harus tetap memperhatikan keselamatan selama berada di lapangan.
Sebagai langkah alternatif, tim melakukan pendataan secara manual. Proses pendataan yang belum selesai kemudian akan dilanjutkan kembali setelah kondisi memungkinkan.
Di tengah keterbatasan tersebut, PMI bersama pemerintah desa dan SIBAT terus berupaya hadir di tengah masyarakat. Bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga mendengarkan kebutuhan warga, memberikan informasi keselamatan, dan memastikan masyarakat memiliki tempat berlindung yang lebih aman.
Karena bagi warga yang masih tidur di bawah tenda, berlindung di bawah pohon, atau bahkan bertahan di rumah dengan rasa khawatir, bantuan sederhana seperti selembar terpal bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti untuk melewati malam dengan sedikit lebih aman. (Hafiidh)


