Dari Kampus ke Sawah, Tim Mannennungeng UKM KPI Unhas Bawa Teknologi AWD IoT untuk Pertanian Rendah Emisi di Bone

Sulawesi Selatan-Bone, Seputarperistiwanews.com - Inovasi perguruan tinggi terus menunjukkan kontribusi nyata dalam pembangunan pertanian berkelanjutan. Tim Mannennungeng PPK Ormawa UKM KPI Universitas Hasanuddin mengimplementasikan teknologi Alternate Wetting and Drying (AWD) berbasis IoT di Desa Kajaolaliddong, Kabupaten Bone, sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi pertanian cerdas yang mengintegrasikan efisiensi air, mitigasi emisi, dan digitalisasi pertanian.

AWD adalah metode pengairan berselang yang mengatur siklus basah dan kering pada lahan sawah secara bergantian. Teknik ini tidak hanya mampu menghemat air hingga 30 persen, tetapi juga menekan emisi gas metana—gas rumah kaca yang berkontribusi signifikan terhadap pemanasan global. Dengan memutus siklus penggenangan terus-menerus, tanah mendapat pasokan oksigen yang menghambat aktivitas mikroorganisme penghasil metana. Proses ini menjadikan AWD sebagai salah satu pendekatan paling efektif dalam mengurangi jejak karbon sektor pertanian.

Selain dampak lingkungan, AWD juga memberikan manfaat ekonomi yang signifikan. Penghematan air irigasi mengurangi biaya pemompaan, sementara penurunan emisi metana membuka peluang bagi petani untuk memperoleh pendapatan tambahan melalui skema perdagangan kredit karbon. Berbagai standar internasional seperti Verra (VCS), Gold Standard, dan Japan's Joint Crediting Mechanism (JCM) telah mengakui AWD sebagai praktik pertanian rendah emisi yang layak mendapatkan insentif karbon. Bahkan pada tahun 2025, metodologi AWD di Filipina resmi disetujui dalam skema JCM, menandai tonggak penting dalam pengakuan global terhadap kontribusi AWD dalam mitigasi perubahan iklim.

Sistem AWD berbasis IoT yang dikembangkan tim memanfaatkan sensor untuk memantau kondisi lahan secara real-time. Data yang diperoleh membantu petani menentukan waktu pengairan dan pengeringan secara tepat, sehingga pengelolaan irigasi menjadi lebih efisien dan terukur. Teknologi ini juga memungkinkan pengumpulan data historis yang dapat digunakan untuk evaluasi dan perbaikan berkelanjutan.

Selain teknologi, tim juga memberikan pendampingan dan edukasi kepada petani tentang prinsip kerja AWD dan manfaatnya bagi produktivitas dan lingkungan. Petani dilatih untuk mengoperasikan perangkat IoT, membaca data sensor, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang diperoleh. Pendekatan ini memastikan bahwa teknologi yang diperkenalkan tidak hanya digunakan, tetapi juga dipahami dan dirawat secara mandiri oleh masyarakat.

Ke depan, adopsi teknologi ini diharapkan semakin meluas seiring dengan dukungan kebijakan pemerintah dan peluang ekonomi dari perdagangan kredit karbon. Program ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara akademisi dan masyarakat mampu melahirkan solusi nyata bagi pertanian yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan, serta mendukung target pembangunan rendah emisi di Indonesia. (red)

Lebih baru Lebih lama