Saat Sekolah Menjadi Laboratorium Panas, PMR Belajar Menghadapi Urban Heat di Surabaya

Surabaya, Seputarperistiwanews.com - Terik matahari menyinari halaman sekolah. Di lapangan upacara yang tanpa naungan pohon, panas terasa menyengat. Sementara di bawah rindangnya pepohonan, udara terasa lebih sejuk dan nyaman. Perbedaan suhu itu mungkin tampak sederhana, namun sesungguhnya menjadi gambaran nyata dari fenomena yang kini semakin dirasakan masyarakat perkotaan: urban heat. Sabtu (20/6)

Fenomena tersebut menjadi tema utama dalam Climate Talk "Urban Heat: Panas Melanda Surabaya, Saatnya PMR Aksi Nyata" yang digelar dalam rangkaian Latihan Gabungan PMR Kota Surabaya di Universitas Dr. Soetomo, Sabtu (20/6). Kegiatan yang didukung oleh American Red Cross (AmCross) dan International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) ini mengajak ratusan anggota Palang Merah Remaja memahami bahwa panas ekstrem bukan lagi sekedar persoalan cuaca, melainkan tantangan kesehatan dan lingkungan yang semakin nyata.

Narasumber dari BMKG, Shanaz Septy Prayuda, S.Tr., M.T., menjelaskan bahwa peningkatan suhu yang dirasakan masyarakat saat ini tidak terlepas dari fenomena global warming atau pemanasan global. Menurutnya, suhu rata-rata Indonesia dalam satu dekade terakhir menunjukkan tren peningkatan.

"Tahun 2025 tercatat sebagai tahun terpanas kelima sepanjang sejarah pengamatan di Indonesia dengan anomali suhu mencapai 0,36 derajat Celsius di atas normal," jelasnya.

Meski terlihat kecil, kenaikan suhu tersebut memiliki dampak yang signifikan terhadap kehidupan manusia. Cuaca menjadi lebih panas, kebutuhan energi meningkat, dan risiko kesehatan akibat paparan suhu tinggi semakin besar.

Namun, di kota-kota besar seperti Surabaya, panas yang dirasakan masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh perubahan iklim global. Ada faktor lain yang memperkuatnya, yaitu fenomena Urban Heat Island (UHI) atau pulau panas perkotaan.

Fenomena ini dijelaskan lebih lanjut oleh Oedaja Soedirham, dr., M.PH., M.A., Ph.D., akademisi dan praktisi kesehatan masyarakat Universitas Airlangga. Menurutnya, suhu di perkotaan cenderung lebih tinggi dibandingkan wilayah pedesaan karena adanya perubahan karakteristik lingkungan.

Di desa, permukaan tanah dan vegetasi masih mendominasi sehingga panas dapat diserap dan dilepaskan secara alami. Sebaliknya, kota dipenuhi beton, aspal, serta bangunan padat yang menyerap dan menyimpan panas lebih lama.

"Perbedaan antara desa dan kota terlihat jelas dari permukaannya. Kota didominasi material yang menyimpan panas, sementara ruang hijau semakin terbatas," ujarnya.

Selain modifikasi permukaan lahan, tingginya kerapatan bangunan menyebabkan sirkulasi udara menjadi kurang optimal. Panas juga terus bertambah dari aktivitas manusia, seperti kendaraan bermotor, industri, dan penggunaan pendingin ruangan yang menghasilkan panas antropogenik.

Agar lebih mudah dipahami, peserta diajak melihat sekolah sebagai "laboratorium panas". Dalam lingkungan sekolah sendiri terdapat titik-titik yang memiliki karakter suhu berbeda. Lapangan upacara tanpa pohon, area parkir kendaraan, jalan beraspal, atap seng atau beton, serta ruang kelas dengan ventilasi kurang baik merupakan lokasi yang cenderung lebih panas. Sebaliknya, taman, area berumput, ruang dengan ventilasi baik, dan tempat yang dinaungi pepohonan memiliki suhu yang relatif lebih rendah.

Pendekatan tersebut membuat peserta dapat memahami bahwa fenomena urban heat sebenarnya dapat diamati langsung di lingkungan sekitar mereka.

Dampak urban heat tidak hanya membuat masyarakat merasa gerah. Menurut Oedaja, suhu yang semakin tinggi menyebabkan penggunaan pendingin ruangan meningkat sehingga konsumsi energi ikut bertambah. Dari sisi kesehatan, kondisi tersebut juga meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga berbagai penyakit terkait suhu ekstrem.

Karena itu, diperlukan langkah-langkah mitigasi yang melibatkan berbagai pihak. Salah satunya adalah memperbanyak Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang berfungsi menurunkan suhu lingkungan secara alami. Selain itu, penerapan cool roof, pembangunan green wall, dan penggunaan infrastruktur permeabel yang mampu menyerap air hujan juga dinilai efektif mengurangi akumulasi panas di kawasan perkotaan.

Pada tingkat individu, langkah sederhana juga dapat dilakukan. Mengenakan pakaian berwarna putih atau warna terang, misalnya, dapat membantu memantulkan panas matahari sehingga tubuh terasa lebih nyaman saat beraktivitas di luar ruangan.

Upaya-upaya tersebut sejalan dengan berbagai program adaptasi perubahan iklim yang telah dikembangkan pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Surabaya sendiri menjadi salah satu daerah yang dikenal berhasil mengembangkan Program Kampung Iklim (ProKlim) sebagai upaya meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim.

Bagi para peserta, pelajaran yang diperoleh hari itu bukan sekedar teori. Mereka belajar bahwa panas ekstrem dapat diamati dari lingkungan terdekat, dipahami penyebabnya, dan dihadapi melalui tindakan nyata. Dari menanam pohon, menjaga ruang hijau, hingga mengedukasi teman sebaya, setiap langkah kecil menjadi bagian dari upaya membangun kota yang lebih sehat dan tangguh menghadapi perubahan iklim.

Karena di tengah kota yang terus berkembang, menjaga keseimbangan antara pembangunan dan lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk masa depan. Panas mungkin tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya dapat dikurangi ketika masyarakat memahami masalahnya dan bergerak bersama untuk menjadi bagian dari solusi. (Hafiidh)

Lebih baru Lebih lama