Konsep itulah yang dihadirkan dalam Wahana Kepalangmerahan pada Jumpa Bakti Gembira (Jumbara) PMR Kabupaten Sidoarjo 2026. Berbeda dengan pembelajaran PMR yang umumnya dilakukan di dalam ruangan, wahana ini mengusung metode belajar sambil bermain dengan sistem spider web. Peserta berpindah dari satu pos ke pos lainnya untuk menyelesaikan berbagai tantangan yang saling terhubung, sehingga materi kepalangmerahan lebih mudah dipahami melalui pengalaman langsung.
Bagi Silvi Anisa, pendamping PMR dari SMAN 3 Sidoarjo, pengalaman mengikuti Wahana Kepalangmerahan menjadi sesuatu yang berkesan. Menurutnya, kegiatan ini merupakan pengalaman pertama bagi timnya.
"Awalnya baru pertama kali ikut. Ternyata seru sekali karena kegiatannya bermacam-macam. Dikemas dalam bentuk permainan, jadi peserta tidak merasa sedang diuji. Harapannya kegiatan seperti ini terus ada karena bisa melatih kemandirian anak-anak. Apalagi sekarang, mereka perlu belajar mandiri sejak dini," ujarnya.
Silvi berharap para peserta dapat menikmati seluruh rangkaian Jumbara dengan penuh semangat. Menurutnya, pengalaman seperti ini tidak selalu datang setiap tahun sehingga harus dimanfaatkan untuk belajar, berkolaborasi, dan menjalin persahabatan dengan sesama anggota PMR.
Keseruan juga dirasakan Kayla dan Kiki dari PMR SMA Wachid Hasyim 2 Taman. Mereka mengaku setiap permainan membuat peserta berpikir sekaligus bekerja sama dalam tim.
"Seru. Bukan sekedar game, tapi juga mengasah pengetahuan. Jadi sambil bermain kami menjawab soal-soal materi PMR," ungkap keduanya.
Seluruh tantangan tersebut dirancang untuk menguji sekaligus memperkuat pemahaman peserta terhadap enam materi utama pembinaan PMR, yaitu Gerakan Kepalangmerahan, Kesiapsiagaan Bencana, Sanitasi Kesehatan, Pertolongan Pertama, Kepemimpinan, dan Manajemen PMR. Dengan metode pembelajaran bermain sambil belajar melalui sistem spider web, peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan secara langsung dalam setiap tantangan yang dihadapi.
Melalui inovasi pembelajaran ini, Wahana Kepalangmerahan menjadi salah satu wahana yang paling diminati peserta. Pembelajaran tidak lagi dibatasi oleh empat dinding kelas, melainkan hadir di ruang terbuka yang penuh interaksi, tantangan, dan kegembiraan. Dari satu pos ke pos berikutnya, para anggota PMR bukan hanya mengumpulkan poin, tetapi juga pengalaman, keterampilan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang akan menjadi bekal mereka sebagai relawan muda di masa depan. (Hafiidh)


