PASURUAN, Seputarperistiwanews.com – Di saat sakit menggerogoti tubuh dan usia memasuki senja kehidupan, perhatian keluarga seharusnya menjadi sandaran terakhir. Namun kenyataan pahit justru dialami MF (54), warga Desa Tenggilisrejo, Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan. Pria paruh baya itu terbaring lemah di ranjang pasien, sementara kepedulian yang diharapkan hadir dari lingkungan keluarga sedarah dinilai belum tampak sebagaimana mestinya. Rabu (24/6)
Kisah MF yang sebelumnya ditemukan dalam kondisi memprihatinkan dan kemudian mendapat pendampingan dari relawan kemanusiaan serta sejumlah pihak terkait, kini menjadi sorotan luas masyarakat. Banyak pihak menilai peristiwa tersebut bukan sekedar persoalan keluarga, melainkan telah menyentuh sisi kemanusiaan yang paling mendasar.
Perhatian publik semakin menguat setelah berbagai upaya penanganan dilakukan oleh relawan, organisasi sosial, dan instansi terkait guna memastikan MF memperoleh perawatan yang layak. Ironisnya, di tengah perjuangan melawan sakit yang dialaminya, dukungan yang terlihat justru lebih banyak datang dari pihak luar dibandingkan dari lingkaran keluarga yang memiliki hubungan darah langsung dengannya.
Salah satu suara yang lantang menyuarakan keprihatinan itu datang dari Lilis, sosok yang terlibat sejak proses evakuasi, pendampingan, mediasi hingga perawatan MF. Dengan nada penuh empati, ia mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki masa lalu yang tidak selalu sempurna.
"Setiap manusia pasti pernah berbuat salah, bahkan melakukan dosa. Tidak ada manusia yang hidup tanpa kesalahan," ujar Lilis.
Namun menurutnya, kesalahan masa lalu tidak dapat dijadikan alasan untuk menanggalkan rasa kemanusiaan ketika seseorang sedang berada dalam kondisi sakit dan membutuhkan pertolongan.
"Tapi di mana nurani kalian ketika melihat kondisi saudara kalian sendiri? Ayah kalian sendiri? Terbaring di ranjang pasien tanpa kalian hiraukan. Di mana hati kalian saat melihat beliau berjuang dalam sakitnya?" ungkapnya dengan nada kecewa.
Pernyataan tersebut menggambarkan kegelisahan yang kini berkembang di tengah masyarakat. Banyak warga mempertanyakan mengapa seseorang yang sedang berjuang melawan sakit harus menghadapi situasi yang dinilai minim perhatian dari orang-orang terdekatnya.
Bagi sebagian masyarakat, perbedaan pandangan, konflik keluarga, maupun kesalahan masa lalu semestinya tidak menghapus kewajiban moral untuk tetap menunjukkan kepedulian terhadap anggota keluarga yang sedang mengalami penderitaan. Terlebih ketika kondisi kesehatan seseorang telah menurun dan membutuhkan dukungan fisik maupun emosional.
Kasus MF kemudian berkembang menjadi refleksi sosial yang lebih luas. Di tengah derasnya perubahan zaman, peristiwa ini dinilai menjadi cermin memudarnya nilai-nilai kepedulian dalam sebagian hubungan keluarga. Ikatan darah yang selama ini dianggap sebagai benteng terakhir perlindungan justru dipertanyakan ketika seorang anggota keluarga berada dalam kondisi paling rentan.
Sebelumnya, kondisi MF terungkap setelah mendapat perhatian dari relawan kemanusiaan yang kemudian melakukan pendampingan serta membantu proses penanganan medis dan sosial. Perkembangan kasus tersebut juga mendapat perhatian berbagai unsur masyarakat yang berharap adanya langkah konkret demi menjamin keberlangsungan hidup dan perawatan MF ke depan.
Peristiwa yang menimpa MF menjadi pengingat bahwa hubungan darah bukan sekedar ikatan biologis. Di dalamnya terdapat tanggung jawab moral, rasa memiliki, kepedulian, dan kasih sayang yang seharusnya tetap hidup meski diterpa berbagai persoalan masa lalu.
Hingga berita ini ditulis, perhatian masyarakat terhadap nasib MF terus mengalir. Banyak pihak berharap nurani kemanusiaan masih dapat berbicara, sehingga kisah pilu yang dialami MF tidak berakhir sebagai catatan duka, melainkan menjadi momentum lahirnya kepedulian dan tanggung jawab bersama terhadap sesama, terutama mereka yang memiliki ikatan keluarga terdekat. (Basir)

