Pasuruan, Seputarperistiwanews.com - Pedagang mengeluhkan minimnya peran pemerintah di tengah melambungnya harga daging sapi di pasaran. Kelangkaan stok sapi lokal membuat persediaan hewan ternak kian menipis, sehingga harga daging sapi lokal terus meroket dan sulit kembali ke harga normal. Senin (5/1)
Harga daging sapi di Pasuruan Raya kembali merangkak naik. Ketua Paguyuban Pedagang Daging se-Pasuruan Raya, H. Habibi, mengungkapkan bahwa lonjakan harga tidak hanya terjadi pada sapi lokal, tetapi juga sapi impor Australia. Kenaikan harga daging sapi impor mencapai Rp10.000 per kilogram, dengan harga jual saat ini berada di kisaran Rp 57.000 hingga Rp 65.000 per kilogram, timbangan sapi hidup
Menurut H. Habibi, kenaikan tersebut menekan pedagang karena biaya modal yang terus meningkat. Kondisi ini memaksa pedagang menaikkan harga jual agar tetap bisa bertahan. “Dengan kondisi ini, pedagang terpaksa menjual daging dengan harga yang jauh lebih tinggi karena biaya modal terus meningkat,” ujarnya.
Lonjakan harga juga terjadi pada sapi hidup. Untuk sapi lokal, kenaikan harga mencapai Rp3 juta hingga Rp5 juta per ekor. Sementara itu, harga sapi impor kini dibanderol di kisaran Rp20 juta hingga Rp25 juta per ekor, tergantung ukuran dan kualitas sapi, jelasnya.
Ketergantungan pasar pada sapi impor semakin memperlihatkan rapuhnya tata kelola ketersediaan daging sapi. Ketua Paguyuban Pedagang Daging se-Pasuruan Raya, H. Habibi, mengungkapkan bahwa saat ini para penjagal sapi nyaris hanya mengandalkan sapi impor asal Australia jenis Brahman cross, yang digunakan sebagai pilihan terakhir untuk pemotongan. Namun ironisnya, harga sapi impor justru terus merangkak naik setiap hari, berkisar Rp1.000 hingga Rp2.000 per kilogram. Bahkan, berdasarkan informasi dari importir di Jawa Barat, harga sapi hidup impor diperkirakan bisa menembus Rp65.000 per kilogram di tingkat awal.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada harga timbangan sapi hidup yang dikhawatirkan akan tembus hingga Rp150.000 per kilogram di tingkat konsumen. “Apakah masyarakat akan mampu dengan daya beli setinggi itu?” tegas H. Habibi. Ia menilai lonjakan harga ini sangat tidak realistis jika dibebankan kepada masyarakat, terlebih tanpa adanya intervensi pemerintah.
H. Habibi menegaskan bahwa masyarakat Kabupaten Pasuruan mayoritas berada pada kelas ekonomi menengah ke bawah. Dengan kondisi ekonomi saat ini, lonjakan harga daging sapi dinilai akan semakin menjauhkan masyarakat dari akses pangan protein hewani, khususnya menjelang bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, di mana kebutuhan dan konsumsi daging biasanya meningkat tajam.
Situasi ini memicu kekecewaan mendalam dari para pelaku usaha yang tergabung dalam paguyuban pedagang daging sapi. Mereka menyayangkan tidak adanya kepedulian dan solusi konkret dari dinas-dinas terkait, baik di tingkat daerah hingga pemerintah pusat. Hingga kini, para pedagang mengaku belum pernah mendapatkan perhatian serius ataupun kebijakan nyata yang mampu menekan laju kenaikan harga dan menjamin ketersediaan sapi. Tanpa langkah tegas dan cepat dari pemerintah, krisis harga dan kelangkaan daging sapi dikhawatirkan akan semakin membebani masyarakat luas.
ARYA

