Telaten Selama 30 Tahun, Roji “Rujak Bonsai” Sulap Pekarangan Rumah Jadi Galeri Bonsai Bernilai Tinggi

PASURUAN | Seputarperistiwanews.com — Berawal dari sekedar hobi, kecintaan Roji terhadap tanaman bonsai kini telah berlangsung hampir tiga dekade. Pria yang akrab disapa “Roji Bonsai” tersebut hingga kini masih tekun merawat dan membentuk berbagai jenis bonsai di kediamannya, kawasan Berkacak, Kelurahan Kolursari, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan.

Awak media Seputar Peristiwa News secara tidak sengaja berkesempatan menyambangi galeri "Rujak Bonsai" milik Roji pada Selasa, 1 September 2026. Di pekarangan samping rumahnya, tampak ratusan koleksi bonsai dengan beragam jenis dan karakter.

Kecintaan Roji terhadap bonsai bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Hampir 30 tahun perjalanan telah dilaluinya, dimulai dari sebuah hobi yang kemudian berkembang menjadi aktivitas yang ditekuni secara serius.

“Awalnya dari hobi. Sudah lama saya menekuni bonsai, hampir 30 tahun,” ujar Roji saat ditemui awak media.

Koleksi yang dimiliki Roji cukup beragam. Sejumlah jenis tanaman yang dibentuk menjadi bonsai di antaranya beringin, asem, bidara, stigi, dan berbagai jenis tanaman lainnya.

Menurut Roji, setiap jenis tanaman mempunyai karakter tersendiri. Karena itu, proses membentuk bonsai tidak dapat dilakukan secara sembarangan dan membutuhkan ketelitian dari penghobi.

“Jenis bonsai juga variatif, ada beringin, asem, bidara, stigi dan sebagainya,” jelasnya.

Tidak hanya memiliki nilai estetika, bonsai juga mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi. Namun, harga tanaman bonsai di kalangan penghobi sangat bervariasi, tergantung jenis, karakter, bentuk, ukuran, serta hasil pembentukan tanaman.

Roji mengatakan, harga bonsai yang ada digalerinya mulai dari ratusan ribuan hingga mencapai sekitar Rp60 juta.

Bagi Roji, merawat bonsai bukan sekedar menanam kemudian menunggu tanaman tumbuh. Ada proses panjang yang membutuhkan perhatian khusus, terutama ketika tanaman mulai diarahkan untuk membentuk karakter bonsai.

Menurutnya, proses dari tanaman yang masih kecil atau belum terbentuk hingga menjadi bonsai yang siap dinikmati membutuhkan ketelatenan dan kesabaran.

“Merawat bonsai dari nol hingga siap memang butuh perhatian khusus. Harus telaten dan sabar, penuh perasaan untuk membentuk jenis tanaman ini,” ungkap Rozi.

Sentuhan penghobi menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut. Batang, cabang, ranting, hingga arah pertumbuhan tanaman harus diperhatikan agar nantinya menghasilkan bentuk yang memiliki nilai seni.

Perjalanan hampir 30 tahun membuat Rozi tidak lagi memandang bonsai hanya sebagai tanaman hias. Baginya, proses merawat dan membentuk bonsai merupakan aktivitas yang membutuhkan rasa, ketekunan, serta kesabaran.

Ratusan bonsai yang kini memenuhi pekarangan rumahnya menjadi bukti konsistensi Roji dalam mempertahankan hobinya. Dari sebuah kegemaran sederhana, bonsai telah menjadi bagian dari kesehariannya.

Di tengah semakin berkembangnya tanaman hias dan komunitas penghobi bonsai, keberadaan sosok seperti Roji turut memperlihatkan bahwa dunia hortikultura dapat menjadi ruang untuk menyalurkan kreativitas sekaligus membuka peluang ekonomi.

Bagi para penghobi, setiap bonsai memiliki cerita dan prosesnya sendiri. Semakin lama dirawat dengan penuh ketelatenan, semakin kuat pula karakter dan nilai seni yang muncul pada tanaman tersebut. (ARYA)

Lebih baru Lebih lama