SIDOARJO, Seputarperistiwanews.com – Ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, diduga mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (1/9/2026).
Para santri mengonsumsi makanan tersebut sekitar pukul 12.30 WIB, setelah melaksanakan salat zuhur. Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 17.30 WIB, sejumlah santri mulai mengeluhkan kondisi kesehatan. Jumlah santri yang mengalami keluhan kemudian terus bertambah.
Memasuki pukul 18.30 WIB, semakin banyak santri yang membutuhkan pertolongan dan penanganan medis. Petugas bersama pihak pesantren mulai memberikan penanganan, sementara sebagian santri yang membutuhkan perawatan lebih lanjut dievakuasi ke sejumlah rumah sakit.
Penanganan dilakukan di masjid pondok pesantren. Tempat tersebut menjadi salah satu titik pelayanan sementara bagi para santri yang mengalami keluhan. Petugas melakukan pemeriksaan dan memberikan pertolongan medis, termasuk pemasangan infus bagi santri yang membutuhkan sebelum proses evakuasi ke rumah sakit.
Di tengah situasi tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sidoarjo menerjunkan 15 personel, terdiri dari 12 perawat dan 3 personel nonperawat.
Petugas PMI bergerak memberikan pemeriksaan, penanganan medis, serta membantu proses evakuasi. Di sela-sela tindakan medis, petugas juga berupaya menenangkan santri yang panik dan mendampingi mereka selama proses penanganan.
Staf PMI Kabupaten Sidoarjo, Mohammad Musa Kalimmulloh, mengatakan tim langsung bergerak setelah menerima informasi mengenai banyaknya santri yang mengalami keluhan.
“Begitu mendapatkan informasi, kami langsung bergerak ke lokasi. Banyak santri yang membutuhkan pertolongan, sehingga kami berusaha memberikan penanganan secepat mungkin dan menangani mereka sesuai kondisi masing-masing,” ujar Mohammad Musa Kalimmulloh.
Menurutnya, penanganan dilakukan di lokasi sembari mempersiapkan proses evakuasi bagi santri yang membutuhkan perawatan lebih lanjut.
“Ada yang kami tangani di lokasi, termasuk pemasangan infus bagi yang membutuhkan. Untuk santri yang perlu penanganan lebih lanjut, kami bantu proses evakuasinya agar bisa segera mendapatkan pelayanan di rumah sakit,” katanya.
Mohammad Musa Kalimmulloh menambahkan, kondisi tersebut juga membutuhkan pendekatan secara kemanusiaan karena sebagian santri mengalami kepanikan.
“Mereka tentu merasa takut dan panik. Jadi kami berusaha menenangkan dan mendampingi mereka. Yang penting bagi kami, santri mendapatkan pertolongan dengan cepat dan merasa aman selama proses penanganan,” ujarnya.
Hingga malam hari, proses penanganan dan evakuasi terhadap para santri masih berlangsung. Petugas bersama pihak pesantren dan unsur terkait terus memberikan pelayanan kepada santri yang mengalami keluhan.
Penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu pemeriksaan lebih lanjut dari pihak berwenang. Dugaan keterkaitan dengan makanan MBG juga masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan resmi. (Hafiidh)
